Fenomena Mudik Lebaran


Puasa ramadhan, hari raya Idul fitri dan proses mudik untuk merayakan lebaran adalah sebuah “ritual sakral” dan satu “rangkaian budaya” tahunan yang senantiasa ditunggu oleh semua lapisan masyarakat terutama masyarakat “urban”. Namun sayangnya, Idul fitri dan ramadhan hanya dimaknai sebagai rutinitas spiritual tanpa makna, sedangkan mudik sendiri sudah menjadi ritus budaya yang sedemikian mentradisi dalam lapisan masyarakat. Walaupun mudik atau pulang kampung mempunyai korelasi waktu yang bersamaan dengan puasa ramadhan dan Idul Fitri yang notabene ritual Islam, namun kenyataannya mudik juga melibatkan masyarakat non-muslim Mudik dijadikan jembatan untuk kangen-kangenan dengan sanak saudara di desa. Pemudik yang rata-rata berasal dari desa/kampung diajak “bernostalgia” dengan masa lalu, dengan keterikatan emosional, dengan kesederhanaan dan “romantisme” suasana alam pedesaan.
Mudik yang berasal dari kata “udik” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sungai disebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) dihulu sungai. Kata itu mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi. Namun ada makna kedua dalam KBBI, yaitu “udik” berarti desa, dusun, kampung (lawan dari kota). Sayangnya kesan yang berkembang di masyarakat cenderung ke arah konotasi negatif karena “orang udik” atau “orang dusun” sering dikaitkan dengan kebodohan dan kurang tahu sopan santun. Lalu, mengapa kita harus repot-repot menjalan tradisi itu? Jawabnya adalah banyak nilai yang terkandung dalam tradisi mudik. Misalnya, selain menjaga silaturahmi dengan kerabat di kampung halaman atau lebih jauh kita akan tetap ingat kepada asal-muasal kita.
Selain itu mudik juga bisa jadi momen “unjuk diri”. Ajang dimana bisa menunjukkan eksestensi dan keberhasilan seseorang selama di perantauan kepada masyarakat tempat dia berasal. Ya, makna mudik mulai mengalami pergeseran nilai dengan terkontaminasi oleh adanya kegiatan “pamer” kekayaan. Dan tanpa disadari masyarakat “kampung” pun ikut ternyata mulai terkontaminasi oleh budaya feudal tersebut. Mereka cenderung lebih menghargai mereka yang membawa kendaraan, harta benda yang banyak dan “mentereng” ketimbang yang tidak punya apa-apa. Padahal seharusnya hikmah mudik yang terbesar dan dikedepankan, adalah momentum kembali ke fitrah dengan melakukan sungkem dan berbaik-baikan pada orang tua. Karena pertemuan dengan orang tua, kerabat, saudara, sahabat mampu menjadi motivasi/spirit yang luar biasa.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 | Fahdisjro El Besra. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top