Masyarakat Multikultur

Masyarakat Multikultur - Konflik ras sering kali muncul dan mendatangkan trauma tersendiri bagi warganya. Tidak dapat dimungkiri kondisi Indonesia yang beragam serta multikultural menjadikannya bangsa yang rentan dan resistensi rendah munculnya konflik horizontal. Selain itu, kondisi masyarakat multikultural tidak selamanya kondusif bagi upaya pengembangan toleransi dan demokrasi. Sehingga tidak mengherankan di Indonesia muncul konflik ras atau suku di berbagai daerah. Kondisi ini menyadarkan bahwa upaya mengaktualisasikan nilai-nilai bersama dalam masyarakat merupakan keniscayaan.
Karakteristik Masyarakat Multikultural
Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Masyarakat multikultural tidak bersifat homogen, namun memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial antarindividu di masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai (peace co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada tiap entitas sosial dan politiknya.
Ciri-ciri masyarakat multikultural menurut Pierre Van Den Berghe :
1.    Segmentasi (terbagi) ke dalam kelompok-kelompok.
2.    Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan bersama).
3.    Sering mengalami konflik.
4.    Integrasi sosial atas paksaan.
5.    Dominasi (penguasaan) suatu kelompok atas kelompok lain.
Penyebab Terciptanya Masyarakat Multikultural
1.    Bentuk Wilayah : negara kepulauan.
Terjadi isolasi geografis yang menyebabkan terjadinya kemajemukan suku bangsa / kemajemukan budaya.
2.    Keadaan Geografis : letak yang strategis di antara dua samudera dan dua benua.
Orang asing masuk ke Indonesia, dengan penjajahan dan perdagangan, terjadi kemajemukan agama.
3.    Perbedaan Cuaca dan Struktur Tanah
Perbedaan cuaca dan struktur tanah menyebabkan terjadinya kemajemukan mata pencaharian.

Konsekuensi Masyarakat Multikultural
a.     Konflik. Kondisi kemajemukan berpengaruh terhadap munculnya potensi konflik horizontal.
b.    Munculnya sikap Primordialisme. Yakni paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak lahir, baik mengenai tradisi, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Contohnya Memberikan prioritas atau perlakuan istimewa kepada orang-orang yang berasal dari daerah, suku bangsa, agama, atau ras tertentu.
c.     Munculnya sikap Etnosentrisme. Yakni sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain.
d.    Munculnya sikap Fanatik dan Ekstrem.  Fanatik adalah sangat kuat meyakini ajaran atau mendukung suatu kelompok. Kerusuhan antarsuporter sepak bola merupakan contoh negatif perilaku masyarakat multikultural yang didasari fanatisme.
Ekstrem yaitu fanatik, sangat keras dan teguh. Seorang ekstremis menganggap bahwa hanya pendapat kelompok sendirilah yang benar dan menolak pendapat dari luar kelompoknya.
e.    Politik Aliran. Ideologi nonformal yang dianut oleh anggota organisasi politik dalam suatu negara. Contohnya partai Islam atau partai Kristen. Namun dampak positif dari berkembangnya politik aliran yang terwujud dengan banyaknya partai politik adalah beragam saluran aspirasi.
Pemecahan Masalah Keanekaragaman
Setidaknya ada dua potensi yang bisa dijadikan dasar pijakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat yang multikultural seperti Indonesia
1.    Menggunakan Kearifan Lokal
2.    Menggunakan Kearifan Nasional

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 | Fahdisjro El Besra. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top