Ads Top

Fenomena Homoseksual di Indonesia

Fenomena Homoseksual Indonesia. Menurut catatan sejarah, fenomena homoseksualitas dalam masyarakat Indonesia bukanlah hal baru. Fenomena homoseksual sudah muncul pada masyarakat tradisional, apalagi pada masyarakat yang disebut “modern”. Tulisan ini merupakan upaya penelusuran terhadap beberapa kasus homoseksualitas di Indonesia melalui ancangan diakronis-dinamis dalam meneropong perilaku homoseksual dalam masyarakat tradisional dan modern.
Perbuatan Homoseksual (homosexual acts) atau perilaku homoseksual (homosexual behavior) mengacu pada kegiatan atau tindak seksual antara dua orang yang berjenis kelamin sama. Jadi, homoseksual mengacu pada orang, baik laki-laki ataupun perempuan yang memakai orientasi homoseksualnya sebagai kriteria pokok dalam mendefinisikan identitasnya. Di Indonesia, kata “homoseks” oleh orang awam hanya digunakan untuk menunjuk kepada laki-laki yang homo, sedangkan perem-puan homoseksual lazim disebut lesbian. Pada kurun kira-kira sepuluh tahun terakhir ini, dikenal istilah gay untuk mengacu pada laki-laki homoseksual. Istilah-istilah tersebut cenderung mengacu pada identitas diri yang kemudian membentuk kepribadiannya.
Setiap budaya menentukan ciri-ciri perilaku jenis kelamin  (gender behavior), sehingga perilaku khas gender tertentu (gender specific behavior) serta peran jenis kelamin (gender roles) di dalam satu budaya dapat saja tidak sama dengan yang ada di dalam budaya lain. Budaya Indonesia modern, misalnya, dapat dipandang sebagai mengakui tiga gender, yaitu jantan, betina dan banci. Konformitas gender adalah keadaan ideal di mana seseorang mengikuti kaidah perilaku gender yang diwariskan oleh buadayanya, sedangkan nonkonformitas gender adalah keadaan faktual di mana seseorang tidak mengikuti (baik secara sadar atau tidak) kaidah tersebut. Nonkonformitas gender dapat melibatkan transvestisme, yaitu fenomena mengenakan pakaian lawan jenis kelamin, atau transeksualisme, yakni keinginan untuk menjadi orang dari lawan jenis kelamin. Masalah yang muncul adalah bahwa kaidah untuk mengkategorikan waria, kedua konsep tersebut tidak memadai. Tidak semua waria ingin menjadi perempuan, misalnya, dan dalam definisi transvestisme biasanya disebutkan kepuasan seksual sebagai tujuan pengenaan pakaian lawan jenis, dan sangat jarang sekali ditemukan pada waria.
Homoseksual di Kalangan Masyarakat Indonesia Modern
Pemolaan homoseksualitas yang sudah diuraikan dalam masyarakat tradisional sampai saat ini masih ada. Sekilas, fakta-fakta tersebut mudah disangsikan kebenarannya, terutama karena pengaruh peradaban Barat atau Islam-Kristen modernis yang diwarnai homofobia (sikap, perasaan dan tindakan anti (ketakutan) terhadap homoseksual). Berawal dari titik inilah, maka sebagian besar anggota masyarakat juga mengharamkan homoseksualitas dan cenderung menganggap bahwa gejala tersebut sudah harus terhapus oleh modernisasi, atau tidak mengakuinya sebagai pernah ada.  Bahkan anggota masyarakat yang masih berpijak pada budaya tradisionalnya pun enggan untuk mengakui adanya manifestasi homoseksual yang dilembagakan itu.
Singkatnya, telah terjadi perubahan sikap, dari sikap yang sebelumnya menerima tindakan “melembagakan” bergeser ke arah melecehkan. Hal ini disebabkan oleh perubahan keseluruhan tata nilai masyarakat yang menganggap bahwa peradaban tradisional itu kuno, terbelakang, penuh dengan dekadensi moral. Maka, tradisi homoseksual yang semula dianggap biasa-biasa saja, lambat laun dianggap sebagai tindakan tidak beradab. Dari sinilah dapat dimengerti kenapa kelompok-kelompok gay dan lesbian terlihat relatif jarang dan menutup diri, padahal dalam faktanya orang-orang berperilaku homoseksual jauh lebih banyak.
Pandangan Agama terhadap Homoseksual
Hampir semua agama “mengutuk” perbuatan homoseksual. Agama Islam  secara tegas mencontohkan tidak di-ridhoi-nya homoseksualitas dalam kisah/sejarah nabi Luth, yang berakhir dengan azab Tuhan berupa pemusnahan terhadap kaum Luth. Dalam pandangan Kristen Protestan secara umum juga demikian, walaupun di kalangan sebagian kecil ulama Kristen ada usaha untuk menerima homoseksual apa adanya. Bahkan Metropolitan Community Church, gereja khusus lesbian dan gay dari Amerika Serikat, telah mendirikan cabangnya di Jakarta sejak tahun 1986.
Sementara itu, dalam agama Kristen Katolik, masalah seksualitas mengacu pada pernyataan yang diterbitkan oleh Departemen untuk Ajaran Iman Vatikan, yang menegaskan bahwa ada standar objektif yang sesuai dengan kodrat manusia. Standar ini diketahui melalui suara hati manusia dan wahyu, yang selanjutnya memberi pengetahuan lebih lanjut tentang standar moral yang menyangkut masalah seksualitas, dan hal ini merupakan tuntutan tak terubahkan dari kodrat manusia, bukan sekedar produk kebudayaan yang berubah sesuai jaman. Maka homoseksual, dalam hal ini, dianggap tidak sesuai dengan standar kodrat manusia, dan oleh sebab itu harus ditolak.
Homoseksualitas dan Hak Asasi Manusia (HAM)
Bagaimana jika kasus homoseksualitas ini dihubungkan dengan HAM (Hak Asasi Manusia)? Penulis berasumsi bahwa berbicara tentang sikap hidup seseorang mau tidak mau kita juga berbicara privacy dan kebebasan individu yang sungguh mendapat legitimasi dari UDHR (Universal Declaration of Human Right).
Tersebut dalam Pernyataan Umum tentang Hak Asasi Manusia (UDHR) bahwa  seseorang yang dilahirkan ke dunia ini mempunyai kemerdekaan (kebebasan) dan mempunyai hak dan martabat yang sama. Maka segala bentuk pembatasan terhadap kebebasan seseorang berarti melanggar HAM yang secara kodrati dianugerahkan Tuhan kepadanya. Apabila hal ini dikaitkan dengan kasus homoseksual, maka banyak terjadi pelecehan dan suara-suara sumbang yang oleh masyarakat ditujukan kepada para pelaku homoseksual. Tidak jarang para pelaku homoseksual di daerah tertentu mengalami “pengompasan” oleh masyarakat sekitar dan tidak diperlakukan secara manusiawi.  Bahkan banyak para pelaku homoseksual diisolasi sedemikian rupa oleh masyarakat karena dianggap "menjijikkan”, sehingga “pengakuan atas kemanusiaannya” sudah tidak ada lagi.
Klaim kebenaran
Masyarakat “normal” selalu mengolok-olok kaum homoseksual (gay) dan lesbian dengan gelar “dosa”, “penghuni neraka”, dan segudang gelar negatif lainnya. Mereka seolah tidak sadar apakah seorang yang “normal” adalah orang yang jauh dari dosa. Apakah mereka juga yakin bahwa mereka adalah calon penghuni surga yang mampu mengalahkan kaum gay dan lesbian.
Individu “normal” seolah lupa bahwa dosa, surga, dan neraka adalah urusan Tuhan. Kita tidak dapat mengklaim diri kita akan masuk surga, sedangkan mereka dijamin masuk neraka. Inilah yang patut menjadi bahan pembicaraan.
Justru orang-orang yang tidak bersimpati dengan gay dan lesbian adalah orang-orang yang tidak bermoral. Mereka telah membiarkan saudaranya terus terjerumus dalam “perilaku negatif” tanpa berupaya untuk mengubah kondisi mereka. Dan bahkan, mereka dengan sengaja mengucilkan mereka dari “lingkungan sosial yang normal”.
Sedikit tulisan ini mudah-mudahan dapat membuka mata hati kelompok “normalis” agar lebih bijak dalam memandang dan menyikapi keberadaan kaum gay dan lesbian. Satu yang pasti, tidak ada manusia di bumi ini yang ingin lahir menjadi gay dan lesbian.

Referensi:
Dede Oetomo, “Homoseksualitas di Indonesia”, dalam  Prisma, edisi 7, bulan Juli 1991, LP3ES, Jakarta
Joseph M. Carrier, The Many Face of Homosexuality: Anthropological Approaches to Homosexual Behavior, Harrington Park, New York & London, 1986
Soebroto Mardiatmaja SJ, “Ajaran Gereja Katolik Mengenai Seks”, dalam Prisma, edisi 7, Juli 1991
www.nanang-martono.blog.unsoed.ac.id

No comments:

Powered by Blogger.