Ads Top

https://play.google.com/store/apps/developer?id=Bung%20Fahdisjro&hl=in

Klasifikasi Konflik Sosial

Macam-macam konflik sosial dapat diklasifikasikan atas dasar pendapat beberapa ahlil dan kriteria tertentu. Tahukah kalian mengenai berbagai macam konflik sosial yang ada dalam masyarakat? Untuk menambah pemahamanmu, ayo pelajari materi berikut! 

 

Menurut Ranjabar. Menurut Ranjabar (2013), konflik sosial yang ada di masyarakat terbagi menjadi dua, yaitu: 

1. Konflik Individual. Konflik dalam individu ini bisa diartikan sebagai konflik yang terjadi dalam mental atau diri seseorang karena suatu hal. Hal ini bisa berupa pilihan yang berbeda dengan kata hati. Pada umumnya konflik individu lebih bersifat informal, tersembunyi, melakukan tindakan negatif, melakukan sabotase, dan lain sebagainya. Contohnya seseorang yang menyesal bekerja sebagai kriminal untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam diri orang tersebut, ia mengalami konflik antara nilai moral diri dengan tekanan ekonomi yang harus dipenuhi. 

 

2. Konflik Kolektif. Konflik kolektif merupakan suatu konflik yang melibatkan banyak orang, serta memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Pada umumnya, konflik ini memiliki dorongan yang lebih kuat bila dibandingkan dengan konflik individu. Individu yang berada dalam suatu konflik biasanya memiliki solidaritas dan kebersamaan yang kuat. Konflik ini memiliki jumlah anggota banyak dan memiliki tingkat emosi yang sangat tinggi dan sifatnya sangat rumit bila dibandingkan dengan konflik individu.  

   

Menurut Ralp Dahrendorf. Ralp Dehrendorf membedakan konflik sosial ke dalam bentuk: 

a. Konflik Peran. konflik peran merupakan suatu kondisi dimana seseorang mendapati kenyataan yang berlawanan dengan perannya dalam kehidupan nyata. Misalnya, peran seorang pekerja yang dituntut untuk mengerjakan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya. 

b. Konflik Kelompok Sosial. Konflik antara kelompok sosial terjadi karena adanya perbedaan kepentingan dalam upayanya mencukupi kebutuhan kelompok tersebut. Contoh konflik antar kelompok sosial adalah konflik antara kelompok propemerintah dan kelompok yang tidak terorganisir. 

c. Konflik antarkelompok yang terorganisir dan kelompok yang tidak terorganisir. Konflik ini biasanya terjadi saat unjuk rasa. Dimana polisi sebagai kelompok yang terorganisir.

d. Konflik Antarsatuan Nasional. Konflik ini disebut juga konflik antarkepentingan organisasi. Misalnya politik tingkat RT, RW, Desa, hingga tingkat nasional. 

e. Konflik Antaragama. Konflik ini sering terjadi pada zaman dahulu saat kondep toleransi belum diindahkan. 

 

Menurut H. Kusnadi dan Bambang Wahyudi yang dikutip dari Ranjabar (2013), macam-macam konflik dapat diklasifikasikan dalam beberapa aspek, yaitu: 

1. Konflik Berdasarkan Tujuan Organisasi. Konflik sosial dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan organisasi. Tahukah kalian macam-macam konflik sosial menurut hubungan dengan tujuan organisasi? 

a. Konflik Fungsional. Konflik fungsional merupakan konflik yang mendukung tercapainya tujuan organisasi dan bersifat konstruktif. Konflik ini sangat dibutuhkan dsalam organisasi. Dalam konflik inidapat memperbaiki kinerja kelompok apabila dikelolah dan dikendalikan dengan baik. Contoh konflik fungsional, misalnya ada sebuah kasus di mana seorang manajer perusahaan menghadapi masalah tentang pengalokasian dana untuk meningkatkan penjualan produk. 

b. Konflik Disfungsional. Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2010), disfungsional merupakan suatu kegiatan atau organisasi yang memiliki disfungsi ketika beberapa dampak dapat menghambat organisasi sosial lainnya. Jika suatu kegiatan atau organisasi sosial mengalami disfungsional, tidak dipungkiri juga dapat menimbulkan konflik. Konflik disfungsional merupakan konflik yang menghambat tercapainya suatu organisasi dan bersifat destruktif (merusak). Konflik disfungsional tidak dapat dihindari karena keberadaan konflik ini pasti ada dalam setiap organisasi atau masyarakat. Konflik disfungsional dapat merugikan semua pihak, individu, kelompok, dan organisasi. 

  

2. Konflik Berdasarkan Posisi Pelaku yang Berkonflik. Konflik sosial yang ada di masyarakat sangat beragam, salah satunya dapat diklasifikasikan menurut hubungan dengan posisi pelaku yang berkonflik. Adapun macam konflik sosial tersebut adalah sebagai berikut:

a. Konflik Vertikal. Konflik vertikal adalah konflik antar satu pihak dengan pihak dalam suatu struktur organisasi yang mempunyai derajat kedudukan yang tidak sama. Berikut contoh dari konflik vertikal. (a) Konflik antara atasan dengan bawahan dalam suatu instansi. (b) Konflik antara buruh dengan majikan dalam suatu perusahaan.

b. Konflik Horizontal. Konflik horizontal adalah konflik sosial yang terjadi di dalam masyarakat antara dua pihak atau lebih yang mempunyai kedudukan sederajat. Contohnya antara lain: (a) Konflik antara suku yang satu dengan suku yang lain dalam suatu negara. (b) Konflik antara umat agama yang satu dengan umat agama lainnya. (c) Konflik antara parpol yang satu dengan parpol yang lain.

Menurut Ranjabar (2013), konflik horizontal dapat dipicu oleh beberapa hal berikut: 

1) Adanya kecemburuan yang bersumber pada ketimpangan ekonomi antarkaum pendatang dengan penduduk lokal. 

2) Adanya sikap saling mengklaim terhadap sumber dana yang semakin terbatas. 

3) Adanya dorongan emosional kesukuan karena ikatan norma tradisional. 

4) Munculnya sikap yang berlebihan antarpemeluk agama. 

5) Mudah dipengaruhi oleh provokator kerusuhan. 

c. Konflik Diagonal. Menurut Ranjabar (2013) konflik dibedakan menjadi tiga, yaitu konflik vertical, konflik horizontal, dan konflik diagonal. Dalam suatu organisasi terjadi ketidakadilan sumber daya sehingga menimbulkan -pertentangan atau konflik yang ekstrim. Pertentangan itulah yang dinamakan konflik diagonal. Sebagai contohnya kasus konflik antara pemerintah dan warga sekitar karena adanya perilaku yang tidak adil atas alokasi sumber daya ekonomi oleh pemerintah pusat.             

 

3. Konflik Berdasarkan Sifat Pelaku yang Berkonflik. Konflik berdasarkan sifat pelaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konflik terbuka dan konflik tertutup (Ranjabar 2013).

a. Konflik Terbuka. Konflik terbuka merupakan konflik yang diketahui oleh semua pihak atau masyarakat dalam suatu negara. Kalian pasti pernah mendengar berita tentang konflik Israel dan Palestina. Bagaimana tanggapan kalian mengenai konflik tersebut? Konflik Israel dan Palestina merupakan contoh konflik terbuka. Hal ini dikarenakan konflik tersebut diketahui oleh semua pihak, termasuk Indonesia. Bahkan, masyarakat Indonesia melakukan penggalangan dana untuk membantu korban konflik tersebut. Selain konflik Israel, kalian juga bisa mengamati contoh konflik lainnya yang sifatnya terbuka di lingkungan sekitarmu.

b. Konflik Tertutup. Konflik tertutup merupakan kebalikan dari konflik terbuka. Dalam konflik terbuka diketahui oleh semua pihak, sedangkan konflik tertutup hanya diketahui oleh pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. Dalam konflik tertutup, pihak yang tidak terllibat konflik tidak tahu jika terjadi konflik. Sebagai contohnya konflik intern sekolah sehingga pihak luar tidak tahu adanya konflik. 

 

4. Konflik Berdasarkan Waktu. Konflik sosial berdasarkan waktu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Konflik Sesaat (Konflik Spontan). Konflik sesaat dapat terjadi dalam waktu yang singkat atau sesaat saja karena adanya kesalahpahaman antara pihak yang berkonflik. Konflik sesaat dapat berakhir pada saat adanya penjelasan antara pihak yang berkonflik. Sebagai contohnya konflik antara dua peserta didik yang berbeda argumen saat berdiskusi. Saat itu, mereka memegang teguh argumen masing-masing sehingga dapat menimbulkan konflik. Namun, konflik tersebut hanya terjadi pada saat diskusi saja. Setelah selesai diskusi, mereka tetap berteman dan tidak terjadi konflik lagi.  

b. Konflik Berkelanjutan. Konflik berkelanjutan terjadi dalam waktu yang lama dan sulit untuk diselesaikan. Dalam penyelesaian konflik ini harus melalui berbagai proses dan tahapan yang rumit. Apabila konflik ini sudah selesai, tidak menutup kemungkinan dapat muncul Kembali konflik sebagai kelanjutan dari konflik dari konflik yang terdahulu. Salah satu contoh konflik berkelanjutan ialan konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Selain konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan, kamu juga dapat menyebutkan contoh lainnya yang ada di lingkungan sekitarmu. 

   

5. Konflik Berdasarkan Pengendalian. Konflik sosial juga dapat dibedakan berdasarkan pengendaliannya. Tahukah kalian apa saja konflik yang dimaksud? 

a. Konflik Terkendali. Menurut Ranjabar (2013), konflik terkendali merupakan suatu konflik di mana para pihak yang terlibat dapat dengan mudah mengendalikan konflik sehingga kjonflik tidak meluas dan cepat selesai. Sebagai contoh, konflik yang terjadi saat rapat OSIS.  Pada rapat tersebut terjadi beberapa pendapat untuk mengembangkan organisasi tersebut, sehingga terjadi perbedaan pendapat yang berujung pada konflik. Namun, adanya ketua OSIS dapat meredam konflik tersebut dengan memberikan solusi yang bijak. Oleh karena itu, konflik dalam rapat OSIS dapat dikendalikan dengan baik.                                

b. Konflik Tidak Terkendali. Konflik tidak terkendali merupakan konflik di mana pihak yang terlibat tidak dapat mengendalikan konflik tersebut sehingga akibatnya dapat meluas. Konflik yang tidak terkendali dapat menyebabkan munculnya kekerasan. Contoh konflik tidak terkendali, seperti tawuran, demonstrasi yang berakhir ricuh, dan lain sebagainya. 

 

6. Konflik Berdasarkan Sistematika Konflik

a. Konflik Nonsistematis. Konflik nonsistematis memiliki sifat yang acak, dimana terjadi secara spontanitas dan tidak ada tujuan yang dicapai. Dalam konflik ini pihak yang berkonflik tidak melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Salah satu contoh konflik nonsistematis ialah tawuran pelajar. 

b. Konflik Sistematis. Konflik sistematis merupakan kebalikan dari konflik nonsistematis, di mana konflik tersebut telah direncanakan secara sistematis dan memiliki tujuan yang ingin dicapai. Dalam konflik ini, pihak yang berkonflik melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dilakukan dengan cermat, hati-hati, dan sistematis. Setiap tingkah laku dari salah satu pihak dianalisis secara cermat dan hati-hati agar memperoleh keuntungan bagi pihak lainnya. 

 

Cermati gambar di bawah! Apa yang dapat kamu pahami setelah melihat gambar tersebut? Gambar di bawah merupakan zaman penjajahan di Indonesia. Sebelum kemerdekaan, bangsa Indonesia telah dijajah oleh bangsa Barat, seperti Spanyol, Jepang, dan Belanda. Berbagai taktik digunakan oleh bangsa Barat untuk mengeksploitasi sumber daya di Indonesia. Penjajahan bangsa Barat di Indonesia merupakan salah satu konflik sistematis. 



Powered by Blogger.