Muhasabah Mudik Lebaran


Sebagaimana tradisi-tradisi lainnya yang berkembang subur dimasyarakat, mudik telah diangap sebagai ritual yang wajib dilakoni oleh mayoritas masyarakat urban di Indonesia. Mudik atau kembali ke udik secara biologis adalah jembatan untuk kembali ke kampung halaman bertemu dan bersilaturahmi dengan orang tua, keluarga dan handai taulan. Mudik secara spiritual menjadi ajang menemukan kembali asa, adab dan jati diri pribadi yang seakan telah menjauh bahkan menghilang dari lingkungan serta peradaban yang membentuk dan membesarkan karakternya sejak dini. Selanjutnya lebaran secara sosial dianggap sebagai medium penyegaran kembali ukhuwah serta kehangatan relasi sosial yang sempat renggang karena tuntutan kerja diperantauan. Kewajiban mengeluarkan zakat adalah bentuk tanggung jawab sosial kaum yang memperoleh kemenangan di hari lebaran kepada para kaum papa dan dhuafa.
Selanjutnya disambung dengan semangat silaturahmi atau halal bihalal sebagai jalan mendapatkan pembebasan dari dosa dan khilaf dengan saling membuka lebar pintu maaf. Lebaran dalam tataran sosial juga seharusnya menjadi titik balik kemenangan umat untuk keluar dari telikung sifat bathil, gemar menjarah, sikap telengas atas sesama serta jebakan jiwa penuh amarah. Mampukah ritual mudik dan lebaran menghapus paradoks kompleksitas dan kekeliruan pemaknaan atas kewenangan umat muslim selama ini. Akankah spiritualisasi mudik mampu mengantarkan umat muslim menjadi insan kamil (insan paripurna) yang juga berlebaran secara paripurna.
Mudik alias pulang kembali ke udik atau kampung halaman, secara sosio-psikologis mudik mudah dipahami sebagai fenomena sosial dimana masyarakat merelakan dirinya untuk bersusah payah dalam segala kerumitan prosesi. Kerelaan dalam keterpaksaan ini umumnya terdorong oleh kolektivitas perasaan masyarakat untuk menikmati lebaran bersama keluarga besar di kampung halaman. Apapun demi mudik. Kemudian menjadi sebuah frasa klise yang dianggap jamak untuk menyebutkan betapa tingginya antusiasme publik dalam melakukan tradisi tahunan ini. Bahkan bagi sebagian kalangan, irasionalitas adalah nuansa yang kerap tertangkap didalam benak. Kondisi jalan padat yang merayap samai macet total, tuslah yang melambungkan harga tiket kendaraan umum begitu mahal, penuh sesak dan bejubelnya antrian, ditingkahi beragam kejadian kisruh dijalan adalah rentetan pemandangan yang terpampang secara banal. Tidak masuk akal memang, namun pada faktanya irasionalitas secara sosiologis mendorong semuanya dilakukan secara berulang setiap tahun.
Dalam skala  komodivikasi tradisi, paradoksal puasa dan mudik juga acap tampil diluar kesadaran sosial publik. Spiritualisasi puasa yang disesaki semangat dasar untuk toleran dan solidaritas dengan kaum papa, ternyata kerap lupa mengejawantah dalam praktik hidup sehari-hari baik selama atau pasca puasa. Ritual puasa disambung prosesi mudik dalam tarikan lurus proses menuju fitrah dihari lebaran, kerap diwarnai oleh demonstrasi perilaku hedonisme juga riya alias PAMER. Salah satu bentuk paling sederhana dan jadi rahasia umum, mudik kerap menjadi etalase untuk mengumbar keberhasilan diperantauan.
Wajar dan tidak salah memang sepanjang masih proporsional dan tidak berlebihan. Namun realitanya, alih-alih mudik demi membawa dan menularkan nilai-nilai profesionalitas, keuletan berusaha dan etos kerja yang justru lebih banyak terpampang kepada warga di kampung halaman adalah nilai-nilai pragmatisme dan kebanggaan atas keberpunyaan harta duniawi. Namun dibalik segala paradoks, sesungguhnya apa yang tergambar dari mudik massal tahunan ini adalah refleksi bantahan dari berbagai tesis bahwa bangsa ini telah kehilangan rasa dan romansa kebersamaannya. Bahwa bangsa ini semakin individualistis, terjebak dalam modernitas hidup yang terpusat oleh ke-AKU-an pribadi.
Mudik menjadi wujud kesadaran kolektif bahwa setiap pribadi pemudik adalah makhluk sosial yang terbalut oleh sebuah kultur romantisme komunal. Dan bahwasannya didalam ingatan itu mereka masih menyelami nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, spiritualitas dan cinta lingkungan di kampung halaman. Boleh jadi hal-hal itulah yang menjadi idealitas spiritualisasi mudik fisik sebagai hasil religiusitas watak sosial yang menjadi wadah untuk menyegarkan kembali degradasi nilai-nilai, etika dan moral.
Meskipun pahit harus diakui bahwa selama ini yang terus terpapar adalah eskalasi paradoks mudik dan lebaran. Mudik lebaran tidak lagi sekedar menjadi ritual menuju kemenangan bersama yang sederhana dan bersahaja. Mudik dan lebaran justru kian identik dengan delusi serta selebrasi hedonisme tingkat kalap, juga ajang pameran topeng materialistik semata.

Referensi:
George Ritzer dan Douglas J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media

MPI Harmoni Sosial (K13)

MPI (Multimedia Pembelajaran Interaktif) Materi Harmoni Sosial Untuk Kelas XI IPS Kurikulum 2013. Sesuatu yang sesuai dengan keinginan masyarakat umum, seperti keadaan tertib, teratur, aman dan nyaman itu perlu diperjuangkan. Kondisi ideal tersebut dapat disebut sebagai suatu kehidupan yang penuh harmoni. Harmoni sosial adalah kondisi dimana individu dapat hidup sejalan dan serasi dengan sesuai kodrat dan posisi sosialnya. Dalam harmoni sosial kita dapat menemukan dialog, toleransi, koeksistensi dan pembangunan yang didasarkan pada pluralisme, keberagaman, kompetisi dan kreativitas.
Harmoni sosial juga terjadi dalam masyarakat yang ditandai dengan solidaritas. Secara etimologi, solidaritas adalah kekompakkan atau kesetiakawanan. Kata solidaritas menggambarkan keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang berdasarkan pada perasan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Menciptakan kondisi yang harmonis pada masyarakat yang beragam tidaklah mudah, karena setiap kelompok memiliki budaya sendiri-sendiri. Penciptaan harmoni di masyarakat sebetulnya tergantung dari sikap dan perilaku kita sebagai warga masyarakat. Agar harmoni sosial terwujud dimasyarakat, prinsip kesetaraan hendaknya diterapkan di tengah-tengah diferensiasi dan stratifikasi sosial.



Efektivitas Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran Sosiologi

Efektivitas Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran Sosiologi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa dalam melaksanakan profesinya guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademis dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus dapat menghadirkan atmosfer pembelajaran yang berkesan dan bermakna. Dalam tataran ideal, Guru mampu bersinergi dalam mengembangkan materi ajar menjadi media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Pengembangan materi ajar yang menarik menjadi sebuah tuntutan agar proses pembelajaran tidak berlangsung membosankan. Dalam hal ini kreativitas dan inovasi Guru menjadi signifikan. Dengan memanfaatkan TIK sangat dimungkinkan untuk mengemas materi ajar dalam format digital interaktif.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dimensi pendidikan tidak dapat terelakkan. Faktanya tidak sedikit siswa yang betah berjam-jam asik dengan gadgetnya, misalnya: laptop, PC tablet, atau smartphone. Dengan mengakses internet mereka dapat mencari beragam informasi dan pengetahuan yang diinginkan atau sekadar menunjukkan eksistensinya melalui media sosial.
Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk kreatif mengembangkan metode pembelajaran yang menarik, inovatif dan menyenangkan. Pembelajaran inovatif yang memanfaatan TIK sebagai medianya bisa diwujudkan dalam bentuk pembelajaran berbasis multimedia interaktif dan media pembelajaran berbasis blog.
Proses pembelajaran tidak melulu tersekat oleh ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan tidak mutlak hanya didapat melalui lisan seorang guru, tetapi juga bisa diperoleh melalui berbagai referensi misalnya internet. Pada sisi lain, gaya mengajar guru pun mengalami transformasi dari model ceramah konvensional menjadi presentasi berbasis multimedia. Terlebih dalam kurikulum 2013 menuntut guru secara masif piawai menggunakan TIK sebagai penunjang proses pembelajaran. Menurut Reeves (1998), dalam proses pembelajaran terdapat dua pendekatan pokok dalam penggunaan TIK, yaitu siswa dapat belajar 'dari' dan 'dengan' TIK. Belajar 'dari' TIK dilakukan seperti dalam penggunaan computer-based instruction (tutorial) atau integrated learning system. Sedangkan belajar 'dengan' TIK adalah menggunakannya sebagai cognitive tools (alat bantu pembelajaran kognitif) dan lingkungan pembelajaran konstruktivis (constructivist learning environments). Dengan menggunakan TIK, idealnya dapat mengubah wajah pendidikan ke arah yang lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih efektif.
Berdasarkan kondisi di atas, peranan TIK sebagai penunjang proses pembelajaran menjadi sangat signifikan. Lebih-lebih pada era global sekarang, transformasi berjalan sangat cepat. Realitanya siswa bahkan dapat lebih mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan-perubahan yang ada. Penerapan TIK untuk proses belajar mengajar memiliki dua tantangan besar yaitu: (1) penerapan TIK sebagai ‘enabler’ efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran; dan (2) penerapan TIK untuk menghasilkan siswa berpengetahuan (knowladge-based student), yaitu mengambil keuntungan dari TIK untuk mengembangkan diri secara terus menerus (long life learning) dan meningkatkan produktivitas.

Peranan Blog sebagai Media Pembelajaran
Pembelajaran Sosiologi sering dihadapkan pada materi abstrak yang berada di luar pengalaman siswa sehari-hari. Hal ini berakibat pada interpretasi materi menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami oleh siswa. Visualisasi merupakan cara efektif untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak.
Dengan memanfaatkan TIK, peta konsep materi ajar (mind mapping) akan dengan mudah tervisualisasikan dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang bisa ditambahkan suara. Sajian audio visual yang dikenal dengan multimedia ini akan menjadikan visualisasi menjadi lebih menarik. TIK bukanlah teknologi yang dapat berdiri sendiri melainkan kombinasi dari berbagai instrumen antara hardware, software dan brainware. Hardware adalah perangkat keras seperti laptop/desktop, PC tablet, Smartphone, atau LCD Proyektor. Software adalah perangkat pendukung ketersediaan bahan ajar yang disajikan guru kepada siswa. Software bisa berupa penggunaan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) atau Media Presentasi (audio visual). Sedangkan braniware dapat diartikan sebagai perangkat intelektual yang mengoperasikan dan mengeksplorasi kemampuan dari hardware maupun software.
Blog singkatan dari web-log didefiisikan sebagai bentuk aplikasi web menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web di internet (http://id.wikipedia.org/wiki/Blog). Dalam pemanfaatannya sebagai penunjang proses pembelajaran, media blog dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan bahan ajar digital. Blog sebagai layanan aplikasi dari internet dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa sebagai sumber belajar tidak terbatas. Guru dapat mengisi semua informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Dilihat dari pihak lain, siswa dapat mengunduh informasi yang sesuai dengan topik dan tujuan yang diinginkan. Penggunaan blog sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai sumber belajar akan mengubah cara belajar dan teknik pembelajaran menjadi variatif. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu.
Blog lebih efektif dan efisien digunakan sebagai media pembelajaran karena memiliki banyak keuntungan. Blog lebih efektif karena materi pelajaran tidak hanya diberikan oleh guru di kelas, tetapi materi dapat diakses secara online melalui blog guru. Blog juga dianggap lebih efisien karena alokasi waktu yang seharusnya dipakai untuk menjelaskan materi pembelajaran di dalam kelas bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain misalnya: diskusi kelompok, presentasi antarkelompok, atau sharing dengan guru di kelas.

Pemanfaatan Media Blog dalam Proses Pembelajaran
Berikut ini adalah tahapan proses pembelajaran dengan memanfaatkan media blog, meliputi:
1. Tahap Prainstruksional
Tahap prainstruksional ini merupakan tahap pembelajaran secara tidak langsung (indirect) yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebelum menyampaikan materi secara teoretis, guru perlu memperhatikan kesiapan ranah berpikir siswa. Media pembelajaran yang paling tepat digunakan adalah media berbasis interaktif atau disebut Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI). Melalui MPI siswa dapat memperoleh konsep materi secara mandiri. MPI bisa disajikan menggunakan software Microsoft Powerpoint, Adobe Flash, Macromedia Flash, atau Lectora. Bahan ajar MPI kemudian diupload melalui media blog kemudian dibagikan (sharing) dengan memanfaatkan media sosial berupa: Facebook, Twitter, dan Google+.
Memanfaatkan media sosial merupakan cara efektif untuk mempublikasikan bahan ajar karena tidak dapat dipungkiri intensitas siswa mengakses media sosial sangat tinggi. Hal ini menjadi peluang strategis bagi guru untuk ikut menyelami dunia siswa yang eksis di media jejaring sosial. Gambar berikut merupakan contoh tampilan multimedia pembelajaran interaktif yang diupload guru melalui blog. 
2. Tahap Instruksional
Tahap ini merupakan tahap guru mengajar secara langsung (direct teaching), proses pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan karakteristik konten kompetensi. Dalam tahapan yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara komprehensif kepada siswa ini, guru dapat memanfaatkan beragam device guna menunjang efektivitas pembelajaran, misalnya: laptop, LCD projector, speaker active dan pointer ketika presentasi materi ajar berbasis multimedia (audio visual). Kelengkapan administrasi mengajar berupa: jurnal mengajar, kalender pendidikan, program tahunan (prota), program semester (promes), silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar digital, presensi siswa, dan intrumen penilaian dikemas dalam bentuk digital yang bisa diakses secara mobile dengan menggunakan PC Tablet. Hal ini lebih efektif dan efisien. Guru tidak perlu membawa tumpukan kertas yang berisi perangkat mengajar ketika berada di dalam kelas.
Melalui blog guru siswa dapat mengakses sumber-sumber belajar yang ada di dalamnya. Siswa dapat memanfaatkan halaman-halaman website yang menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan. Siswa dapat mengakses berbagai informasi sesuai dengan materi pembelajaran di kelas. Hal ini dapat melatih kemandirian siswa dalam mencari, menemukan, sekaligus menyeleksi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung materi yang disampaikan guru di kelas. Secara bertahap diharapkan akan terbentuk kreativitas siswa dalam mengumpulkan informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran.
Pemanfaatan media blog ini juga dapat meningkatkan kreativitas guru dalam menyajikan bahan ajar. Secara tidak langsung siswa dapat menilai sejauh mana guru melakukan eksplorasi terhadap materi pembelajaran yang diberikan pada siswa. Sebagus apapun media yang digunakan oleh guru jika tidak diikuti dengan konten (muatan) materi yang mendalam tetap saja akan menjemukan bagi siswa. Sehingga guru juga lebih tertantang untuk selalu meng-update materi sajian secara rutin
3. Tahap Evaluasi dan Tahap Tindak Lanjut
Tahap ini merupakan tahapan mengevaluasi hasil belajar siswa sesuai dengan standar penilaian pendidikan. Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Instrumen yang bisa dimanfaatkan guru untuk melaksanakan evaluasi adalah dengan metode evaluasi secara online. Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk melaksanakan evaluasi online baik berbasis web (html) ataupun berbasis flash, yaitu: Google Form, Proprofs, Edmodo, Quipper School, Wondershare Quiz Creator, Question Writer, dan Macromedia Flash. Dengan evaluasi secara online bukan hanya nilai yang bisa langsung dilihat hasilnya secara realtime, melainkan juga bisa menganalisis butir soal dari instrumen evaluasi online tersebut. Instrumen evaluasi yang dibuat menggunakan Google Form dapat disematkan (embed) ke dalam halaman blog guru. Dengan catatan template blog harus responsive. Artinya halaman blog bisa diakses dengan baik menggunakan PC tablet atau Smartphone. Hal ini penting untuk mengakomodasi siswa yang tidak memiliki laptop. Proses penilaian yang dilakukan melalui media blog dapat dilihat pada gambar berikut:
Simpulan
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan pembelajaran juga harus dikemas sesuai dengan kebutuhan siswa dalam menghadapi tantangan dunia modern. Siswa yang sudah akrab dengan berbagai kegiatan jejaring sosial melalui media internet akan merasa bosan ketika harus berkutat dengan teori-teori yang ada dalam buku. Guru sebagai pendamping siswa dalam belajar harus mampu memanfaatkan situasi tersebut guna mengarahkannya menjadi sarana belajar. Media blog menjadi sarana paling efektif dalam pelaksanaan pembelajaran.
Penulis menyarankan pada rekan-rekan guru terutama yang mengampu mata pelajaran sosiologi untuk menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Hal ini dilakukan karena media blog terbukti mempunyai banyak kelebihan dibanding media berbasis teknologi informasi lain dalam mendampingi proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
BPTIKP. 2014. Panduan Kegiatan Pengembangan dan Pengayaan Sumber Belajar. Semarang.
Reeves, T.C. 1998. The impact of media and technology in schools. A research report prepared for the Bertelsmann Foundation. Amerika Serikat: University of Georgia.

Berikut ini adalah video pemanfaatan TIK dalam pembelajaran Sosiologi. Semoga menginspirasi.
Gagasan ini merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK). Sekaligus partisipasi aktif dalam lomba Guru Blogger Inspiratif 2014 yang diinisiasi oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF).

Khutbah Jumat; Kritik Sosial

Ungkapan terdalam dari sanubari kita adalah senantiasa memanjatkan syukur ke hadirat Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Berkat kasih dan kebesaran-Nya kita dapat kembali hadir dalam suasana menunaikan jemaah shalat Jumat. Dengan sendirinya, kita semakin memantapkan hati dan niat, karena kehadiran Allah dalam setiap langkah, gerak dan setiap tarikan nafas kita, untuk bertakwa dan berikhtiar menyempurnakan ketakwaan kita.
Dalam kesibukan kita menghadapi hari-hari kerja dan beraktivitas tentu saja penuh dengan kelelahan dan berpeluh keringat. Seringkali tak ada lagi waktu tersisa untuk merenungkan hidup dan untuk mencari makna kehidupan kita sehingga rnelahirkan suatu kekosongan jiwa dan kesepian jiwa yang sangat berat menekan. Hal ini menjadi ciri kehidupan manusia modern di kota-kota besar yang menjadi pusat kehidupan manusia yang penuh sesak.
Manusia menderita ketakutan, kecemasan, frustasi dan stres. Bahkan banyak orang mengkhawatirkan akan menemui ajalnya dalam kondisi yang tidak wajar karena penyakit aneh, dibayangi ketakutan musuhnya ataupun lebih memilih bunuh diri. Seorang ahli ilmu jiwa kenamaan Jung, mendapati bahwa krisis terbesar manusia modern pada pertengahan umurnya adalah dikarenakan oleh lenyapnya kepercayaan agama. Di Amerika 50% dari tempat tidur rumah sakit ditempati oleh para penderita penyakit jiwa, meskipun di sana ilmu pengetahuan dan teknologi maju sangat pesat.
Pada kesempatan yang penuh uasana kedamaian ini, saat kita berkumpul bersama saudara-saudara seiman, kita perlu merenungi secara jujur dan terbuka tentang keadaan kita secara pribadi sekaligus sebagai umat yang terpilih.
Jemaah Shalat Jum'at yang Berbahagia,
'Kita merasa prihatin', suatu ungkapan yang sering kita dengar, yang diungkapkan oleh kalangan agamawan dan tokoh pimpinan keagamaan. Keprihatinan, suatu ungkapan sederhana dari sebuah rasa ketidakpuasan. Sebagai refleksi batin dan curahan perasaan terdalam, keprihatinan merupakan reaksi terhadap keadaan di lingkungan kita, terhadap orang-orang di sekitar kita ataupun berbagai keputusan yang terkait dengan masyarakat. Boleh jadi karena tidak setuju, tidak puas ataupun merupakan pertentangan, karena berbeda pendapat.
Dalam bahasa agama, keprihatinan menjadi bagian dari ungkapan bahasa dakwah, yang arti sederhananya: mengajak, menyeru ataupun mendorong. Dakwah itu sendiri sebagai perwujudan amar ma’raf nahy munkar, penegakan kebaikan dan penghapusan kemunkaran. Dengan kata lain, dalam dakwah itu terdapat usaha untuk melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.
Khutbah Jumat hanya menjadi media dakwah salah satunya. Cara lainnya disampaikan melalui dakwah terbuka, diskusi, dialog, seminar ataupun dakwah monologis di layar kaca. Bahkan, sebagian ilmuwan kita mengekspresikannya lewat tulisan di berbagai media cetak. Dari berbagai forum itulah kita mendapatkan gambaran adanya kecenderungan dakwah kritik yang semarak dan hangat. Dakwah Islam, seperti halnya khutbah Jumat, tidak saja berisi ajaran dan cerita tentang ibadah dan keakhiratan tetapi juga kepedulian kritis para muballig, dan cendekiawan kita dalam merespon atau menyikapi persoalan sosial yang sangat kompleks.
Yang sangat menggembirakan adalah, para da`i yang ikut menyuarakan sikap responsif keagamaan tersebut demikian bervariasi. Bukan hanya para kiai, ustadz ataupun sarjana agama lulusan perguruan tinggi agama ataupun plus pesantren, tetapi juga para aktivis keislaman dari kalangan mahasiswa, dosen, termasuk pengusaha, birokrat dan tokoh militer. Tidak ketinggalan pula kelompok artis, seniman dan budayawan angkat bicara soal agama. Pembicaraan tentang agama menjadi trend, pop dan aktual dalam banyak kesempatan. Yang menarik disoroti adalah soal muncul dan berkembangnya pola dakwah kritik ataupun kritik dakwah.
Hadirin yang Mulia,
Seiring dengan fenomena tersebut maka mulai memudar berbagai konsep keagamaan semisal ulama, santri ataupun ustadz. Yang tadinya persepsi itu hanya melekat pada orang yang menempuh pendidikan formal keagamaan di pesantren, madrasah dan Perguruan Tinggi Islam, kini juga melekat pada para aktivis kerohanian Islam di kalangan mahasiswa, dosen dan kalangan pengusaha ataupun birokrat. Pembicaraan soal agama tidak lagi menjadi monopoli kelompok tertentu, tetapi lebih meluas pada berbagai lapisan masyarakat secara menyeluruh.
Munculnya dakwah kritik tersebut sebagai kritik terhadap dakwah yang selama ini oleh sebagian pihak disampaikan hanya pada tataran verbal atau tradisi lisan dan penuh dengan dogma dan doktrin semata. Dakwah hanya disuarakan lantang di podium dengan slogan dan hiburan yang menggambarkan sekitar pahala dan dosa, ura dan neraka, ataupun janji-janji kehidupan akhirat. Dakwah dipandang kurang membumi dan membudaya di kalangan umat. Sementara corak dakwah kritik lebih menekankan aksi dinamis dari pesan-pesan dakwahnya.
Nabi Muhammad saw. dengan risalahnya mewakili gambaran peran agama di bumi ini sebagai kritik sosial sebagaimana juga agama yang dianut para nabi dan rasul pendahulunya. Agama senantisa berhadapan dengan keadaan di lingkungannya, dan pada kali lainnya, menjadi sarana peneguh dan penguat tentang keberlakuan suatu moral atau praktik sosial. Intinya, agama juga memiliki fungsi kritik untuk melakukan perubahan. Hal itu dapat kita lihat dalam berbagai ilustrasi dari ayat-ayat Alquran.
Kritik dalam bahasa agama dekat dengan pengertian nasihat (nashihat), dakwah ‘amar ma’ruf nahy munkar, dan 'mau'izhah hasanah', dan sebagainya. Kemampuan 'menyeru' pada kebenaran disertai dengan manfaat bagi orang lain dan diri berupa pahala dan Allah swt. Kritik dengan niat yang baik dapat bermakna Salah satu sabda Nabi saw. dalam riwayat Imam Muslim menjelaskan:
Artinya: "Siapa yang mengajak kepada petunjuk yang benar, ia mendapat pahala seperti beberapa pahala orang yang mau mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun hal itu dari beberapa pahala mereka. ditimpakan dosa seperti beberapa dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun hal itu dari beberapa dosa mereka." (H.R. Muslim)
Di dalam Alquran banyak terdapat ayat yang menekankan pentingnya kedudukan manusia yang memiliki kekuatan dan kemampuan berfikir, berdaya cipta dan menyatakan pendapatnya. Islam melarang adanya sikap arogan, sombong dan takabur dalam menyampaikan kritik dan pendapat. Kritik yang hanya sekedar berniat menjatuhkan dan mencelakakan orang lain hanya akan mengakibatkan kerusakan dan akan menimbulkan kerugian di pihak manapun. Kritik yang hanya dijadikan tujuan akan menunjukkan sikap seolah-olah orang lain selalu salah dan dirinya merasa benar. Orang yang demikian akan menjadi 'merugi' sebagaimana dilukiskan dalam Alquran Surat Al Kahfi (18) : 103-104 yang berbunyi:
Artinya: “Katakanlah, apakah akan kami beritahukan kepadarnu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang orang yang telah sesat perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka me-nyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. "
[Q.S. Al Kahfi (18) : 104]
Dalam ajaran Islam juga ditekankan pentingnya sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima saran, kritik ataupun pendapat. Bahkan, sikap keterbukaan tersebut seiring dengan tingkat mutu keimanan dan amal saleh seseorang. Dalam surat Al `Ashr (103) : 1-3 dinyatakan:
Artinya: "Demi waktu. Sungguh manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh dan saling memberi wasiat untuk tegaknya kebenaran dengan haq dan saling berpesan dengan kesabaran (ketabahan)." [Q.S. Al 'Ashr (103) : 1-3]
Dengan halus sekali Allah menitahkan untuk meraba-raba kemampuan sendiri dan memulai koreksi terhadap diri sendiri. Terlebih sikap yang demikian dikaitkan dengan perintah untuk mengukuhkan keimanan dan ketakwaan.
Hadhirin Rahimakumullah,
Yang ingin kita telusuri adalah memetakan berbagai ungkapan dan berusaha merekam sikap kritis para juru dakwah umat Islam. Keprihatinan para ulama dan cendekiawan dapat mewakili jeritan kelompok dhu’afa, mereka yang tertindas, para pencari keadilan dan harapan orang-orang miskin. Upaya untuk menggambarkan tentang apa yang menjadi keprihatinan, dapat memberikan hikmah bagaimana seyogyanya umat Islam menghadapi masalah sosial dan sekaligus melihat sejauhmana efektifitas dakwah kritik tersebut dilakukan bagi perubahan untuk keadilan sosial yang lebih luas.
Pertama, kritik ketuhanan yang menekankan ajaran tauhid sebagai pusat dan inti ajaran. Ajaran Tauhid banyak tercemari oleh bid`ah, takhayul dan mistik serta isu yang mengarah pada praktik kemusyrikan. Tampaknya, masyarakat kita yang dipandang semakin modern ini makin percaya pada persoalan kegaiban dan perdukunan, ramalan ataupun dunia santet dan susuk. Masyarakat kita begitu mudah digoyang isu drakula ataupun tuyul. Begitu percaya dan terpengaruh oleh soal adanya kekuatan untuk mem-'backup' (mendukung) dan melindungi dari kelompok jin ataupun kekuatan gaib. Bahkan, disinyalir sebagaimana orang memanfaatkan kekuatan supernatural untuk kepentingan jabatan, karir, kecantikan dan persaingan dalam bisnis.
Kedua, kritik moral dan etika umat. Umat Islam lebih akrab dengan etika dan moral dalam pengertian sekedar sopan santun anak terhadap orang tua, murid terhadap guru, buruh terhadap majikan ataupun bawahan terhadap atasannya. Etika dalam arti kesopanan lebih dipandang penting ketimbang etika sosial yang lebih luas. .-kkhirnya, secara kolot dan kaku masyarakat kita cenderung mengabadikan feodalisme dan formalisme yang mengabaikan perhatian dan tanggung jawabnya terhadap masalah sosial umat secara menyeluruh.
Hal ini memerlukan pemahaman dan penghayatan moral dan etika yang utuh dari umat Islam. Etika yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara luas jauh lebih penting dalam merefleksikan nilai-nilai Islam. Akibat kurangnya perhatian terhadap aspek ini, akhirnya perbuatan dosa kolektif dianggap tidak berarti. Kita sering hanya merasa prihatin jika mendengar mewabahnya budaya korupsi, mungkin tanpa dapat berbuat apa pun, terhadap segala persoalan yang menyangkut manipulasi, budaya koneksi, ataupun kriminalitas yang makin marak. Belum lagi soal adanya tindakan keberingasan dan kerusuhan yang menelan banyak korban materiil ataupun jiwa manusia. Bagaimana bisa dipahami, orang yang setiap hari shalat, mengaji dan mengkaji Alquran, sopan dan rajin mengaji, pada kali yang lain menjadi perusak dan perusuh kehidupan masyarakat.
Ketiga, kritik sosial budaya berkenaan dengan setiap segi kehidupan sosial dan bodaya masyarakat. Banyak keprihatinan terlontar di seputar rimba raya hukum kita. Dari yang hanya mengatakan adanya kelunturan wibawa hukum, mafia peradilan hingga hilangnya kepastian dan keadilan hukum. Masalah perkelahian pelajar sangat akut dan tampaknya belum bisa tertangani secara tuntas. Sementara itu kehidupan masyarakat telah dilanda konsumerisme, materialisme, hedonisme, pragmatisme serta sekulerisme sebagai serentetan penyakit sosial masa kini.
Ada juga muballigh yang menyoroti adanya kekeringan teladan dari para pemimpin masyarakat dan keterasingan masyarakat yang memegang teguh agamanya di tengah kehidupan glamor kota-kota besar. Mesjid-mesjid dan tempat pengajian mulai ditinggalkan. Pusat-pusat perbelanjaan selalu ramai. Diskotik, cafe dan night club tak pernah luput dikunjungi. Orang lebih dihargai dari penampilan fisik dan merek yang dipakainya, ketimbang sisi akhlaknya.
Keempat, kritik ekonomi terkait dengan persoalan ekonomi umat dan bangsa. Isu yang paling mendasar berpusat pada kemiskinan. Dorongan para pemuka agama agar konsentrasi permodalan di satu pihak mesti dibagi secara adil, adanya keharusan kemitraan antara pengusaha besar dan lemah, bukan bantuan yang sekedarnya atau hanya ungkapan belas kasihan. Ada pula seruan untuk menekankan distribusi peran, peluang dan kesempatan yang sama dalam berusaha. Semuanya bermuara pada bagaimana usaha meningkatkan taraf hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat perkotaan yang selalu menjadi sorotan, rentan dengan problema ekonomi. Tidak henti-hentinya diwarnai oleh masalah penanganan gepeng (gelandangan dan pengemis), pemulung, pengamen ataupun masalah sampah. Siapakah yang dapat diandalkan mengulurkan tangan untuk mereka agar terbebas dari derita kejamnya ibu kota? Tentu saja jawabannya ada pada kesadaran dan kesungguhan kita sebagai umat pemberi rahmat dan kesejukan bagi kemanusiaan.
Kelima, kritik keilmuan dan teknologi. Negara-negara Islam telah menjadi korban dari mengalirnya pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Barat. Keprihatinan itu muncul dari tingkat produktifitas keilmuan dan teknologi umat Islam yang relatif rendah dan masih kalah bersaing dengan dunia Barat yang terus mendominasi. Dari produk makanan dan minuman, buah-buahan, mode pakaian, hingga mainan anak-anak dibanjiri oleh karya nonpribumi. Umat Islam hanya jadi konsumen yang terus-menerus hobi mengeluarkan anggaran yang tanpa disadarinya lebih menguntungkan orang dan bangsa lain.
Masalah kedua terkait dengan hakikat keilmuan Barat yang hanya mengakui adanya wilayah kebendaan yang empirik sementara agama tidak hanya menyangkut soal yang empirik tetapi juga yang metafisik. Yang dipandang sebagai ilmu bagi dunia barat adalah yang dapat diindera dan sesuai dengan kenyataan. Padahal cakupan agama mencakup keduanya, wilayah nyata dan maya, riil, dan gaib. Di sini senantiasa merebakkan ketegangan secara prinsip antara dunia Islam dengan dunia Barat.
Nilai dan ajaran agama dihadapkan berbagai penemuan mutakhir yang menantang dogmatisme agama dan tantangan untuk ikut memecahkan persoalan kemanusiaan. Dari mulai pengembangan biomedis, alat-alat perang mutakhir sampai persoalan alat pembunuh sistematis. Tidak ada zaman yang paling menantang bagi keberadaan agama kecuali masa yang amat berat di era perubahan global yang sangat cepat ini.
Keenam, kritik struktural terkait dengan aturan, lembaga dan perangkat formal yang senantiasa menjerat dan menghambat pada kemajuan umat. Banyak orang ingin maju, pintar, dan cerdas, tetapi selalu tidak pernah maju. Banyak yang berprestasi tetapi selalu tidak pernah menang. Di dalamnya ada budaya koneksi, pelicin, dan lobi-lobi tingkat tinggi di lapangan golf, pacuan kuda, restoran, cafe, ataupun juga di lapangan tenis.
Isu-isu soal kemiskinan struktural sering dikaitkan oleh para da`i dengan adanya kemiskinan yang semakin menggurita. Bukan saja kemiskinan materiil tetapi juga kemiskinan mentalitas dan spiritualitas masyarakat. Setiap orang sering diperlakukan tidak sama dan sangat tergantung pada anak siapa, keluarga siapa dan berapa besar koneksi diberikan.
Hadhirin yang Berbahagia,
Dakwah kritik sebagai sikap kepedulian dan hasrat melakukan perubahan memang penting untuk membangunkan umat Islam dari tidur panjangnya. Kita berharap dapat merangsang kreativitas berfikir dan memicu keterlibatan umat dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya. Yang terpenting adalah bagaimana perubahan itu dapat direalisasikan menuju perbaikan dan penyempurnaan kualitas kehidupan umat. Sehingga bukan hal yang berlebihan jika kita menyatakan, tiada dakwah tanpa perubahan dan setiap upaya untuk melakukan perubahan adalah dakwah.
Dengan amat tegas Rasulullah saw. mengingatkan tentang keharusan menyatakan kebenaran dalam keadaan apapun, dengan resiko apapun, dan sebesar apapun tantangannya. Sikap memperjuangkan kebenaran tidak ada tujuan lain kecuali untuk menegakkan keadilan. Dalam keadilan itu ada ketakwaan dan ridla Tuhan. Karenanya, kritik sosial umat merupakan bagian dari nasihat agama yang seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap umat. Allah berfirman dalam Alquran surat Al Anfal (8) : 90 yang artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu semua untuk berbuat adil dan berbuat ihsan, memberi (perhatian) kepada kaum kerabat; dan Allah melarang berbuat keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepada kamu sekalian agar kalian dapat mengambil pelajaran " [Q.S. Al Anfal (8) : 90]
Akhirnya perlulah kita mengakhiri khutbah ini dengan beberapa kesimpulan:
Pertama, umat Islam perlu memahami lebih mendalam tentang etika sosial dan penegakan akhlak bermasyarakat secara luas, tidakhanya mengerti soal kesopanan, sikap dan tingkah laku saja;
Kedua, sikap kritik sebagai bentuk kepedulian dan panggilan hati nurani umat untuk meluruskan yang salah dan munkar, perlu menjadi budaya dalam kehidupan umat Islam. Kritik yang ditujukan untuk keadilan sosial secara menyeluruh, bukan kritik yang mencari kambing hitam apalagi berbuat kemunkaran serta kezaliman; dan
Ketiga, bertanggung jawab secara pribadi ataupun bersama-sama untuk saling mengingatkan di antara sesama umat harus dilandasi sikap keterbukaan dan mengarah pada usaha mengembangkan dakwah yang mampu menyelesaikan persoalan umat secara nyata dalam berbagai segi.
Dipublikasikan pada hari Jumat 24 April 2015 M / 5 Rajab 1436 H

Islam dan Radikalisme

Islam dan Radikalisme - Tidak mudah mengaitkan antara Islam dan radikalisme. Pertanyaannya adalah: apakah Islam mengajarkan radikalisme? Jawaban atas pertanyaan ini selalu problematik. Sebab, agama (Islam atau agama apa pun) secara taken for granted dipandang sebagai instrumen ilahiah yang mengajarkan hal-hal yang serba "baik." Bagaimana mungkin mengkaitkan agama dengan ekstremisme sesuatu yang secara inheren dianggap mengandung hal-hal yang tidak "biasa". Dalam perspektif seperti ini, agama dan radikalisme sering dilihat sebagai sesuatu yang bersifat kontradiktif. Namun demikian, dalam kenyataan sehari-hari, kaitan erat antara agama dan radikalisme merupakan hal yang mudah ditemui.
Pada dasarnya ada keengganan bagi banyak kalangan umat beragama untuk melihat potensi keterkaitan antara agama dan radikalisme. Sikap enggan ini bukan didasarkan semata-mata untuk membela agama tertentu, tetapi karena fungsi agama memang bukan untuk mendorong tindakan-tindakan yang bersifat radikal, dan berbau negatif. Agama selalu berbicara tentang hal-hal yang serba baik, serba agung, untuk menciptakan tatanan yang dalam perspektif, misalnya, Islam "baldatun thayibatun wa rabun ghafur." Masyarakat Jawa menyebutnya, "negeri gemah ripah lohjinawi, toto tenterem kerto raharjo." Atau, dalam pandangan para sosiolog Barat, agama dimaksudkan untuk menciptakan "the good society." Inilah kira-kira yang menjadi fungsi universal agama-agama yang ada.
Meskipun begitu, pada dasarnya sulit untuk mengingkari adanya tindakan-tindakan radikal yang setidak-tidaknya membawa bendera agama kalau bukan justru diinspirasi dan dimotivasi oleh cara pandang serta pemahaman tertentu terhadap doktrin-doktrin agama. Dan, dalam konteks perkembangan global dewasa ini, komunitas Islam sulit untuk menghindar dari pertanyaan apakah Islam mendakwahkan radikalisme? Tentu dengan semangat subjektivitas keagamaan, setiap Muslim akan menjawab dengan nada negatif. Dengan kata lain, Islam tidak (pernah) mengajarkan radikalisme. Kendatipun mereka mengetahui bahwa ada banyak tindakan radikal yang bisa dikait-kaitkan dengan Islam.
Islam tidak bisa mengakomodir tindakan-tindakan ekstrem. Baginya jelas bahwa Islam justru memerintahkan moderasi dan keseimbangan situasi yang tidak ekstrem. Moderasi dan keseimbangan yang diajarkan Islam mencakup segala sesuatu, baik dalam hal kepercayaan, beribadah, perbuatan dan tingkah laku, serta dalam hal menetapkan hukum. Inilah, yang dalam Islam disebut al-sirat al-mustaqim (jalan lurus) jalan mereka yang diberi nikmat oleh Allah, dan bukan mereka yang terkena murka Allah.
Oleh karena itu, bahwa moderasi atau keseimbangan bukan hanya merupakan karakteristik umum Islam, tetapi juga menjadi tonggak paling fundamental. Jika secara doktriner dan prinsipal, itulah yang ingin dipancangkan Islam, maka semestinya komunitas Islam adalah komunitas yang mengikuti jalan lurus, adil, moderat, dan seimbang. Mereka seharusnya selalu berada di tengah, tidak berada pada titik paling jauh baik di sisi kanan maupun di kiri dari pusat.
Gagasan mengenai moderasi dan keseimbangan mempunyai dasar yang kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah dua sumber utama Islam. Sumber yang pertama ini telah menyebutkan berbagai istilah yang memerintahkan Muslim untuk selalu berada di tengah, menjadi moderat, dan berlaku seimbang (wasath) serta melarang mereka berlaku ekstrim, ta'addi (melampaui batas), atau tasydid (kaku, keras). Demikian pula, berkali-kali Nabi Muhammad mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan meskipun di dalam menjalankan ajaran agama. Nabi juga mengingatkan bahaya yang bakal dihadapi oleh mereka yang bertindak melampaui batas. Ajaran-ajaran Islam memang memerintahkan Muslim untuk berlaku seimbang, dan melarang mereka bertindak ekstrem.
Ada tiga problem utama dalam radikalisme agama,
Pertama, tindakan ekstrem atau batas itu terlalu sulit untuk dapat disetujui oleh manusia. Terlalu berat bagi mereka untuk memikul beban atau mentolerir tindakan-tindakan yang melampaui batas. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang dapat hidup dengan praktik-praktik yang melampaui batas, mayoritas tidak mungkin bertindak demikian. Karenanya dapat dikatakan bahwa ekstremisme itu sebenarnya berlawanan dengan sifat manusia (human nature).
Kedua, tindakan ekstrem atau yang melampaui batas itu tidak berumur panjang (short-lived). Secara alamiah, kemampuan orang untuk bertahan khususnya terhadap hal-hal yang berbau eksesif itu terbatas. Dan karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan, maka tidak bakal mampu bertahan dengan tindakan-tindakan yang melampaui batas untuk jangka waktu lama.
Ketiga, praktik-praktik yang melampaui batas itu membahayakan dan melanggar hak dan kewajiban pihak lain.

 

© 2015 | Fahdisjro El Besra. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top