Masyarakat Multikultur

Konflik ras sering kali muncul dan mendatangkan trauma tersendiri bagi warganya. Tidak dapat dimungkiri kondisi Indonesia yang beragam serta multikultural menjadikannya bangsa yang rentan dan resistensi rendah munculnya konflik horizontal. Selain itu, kondisi masyarakat multikultural tidak selamanya kondusif bagi upaya pengembangan toleransi dan demokrasi. Sehingga tidak mengherankan di Indonesia muncul konflik ras atau suku di berbagai daerah. Kondisi ini menyadarkan bahwa upaya mengaktualisasikan nilai-nilai bersama dalam masyarakat merupakan keniscayaan.
Karakteristik Masyarakat Multikultural
Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Masyarakat multikultural tidak bersifat homogen, namun memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial antarindividu di masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai (peace co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada tiap entitas sosial dan politiknya.
Ciri-ciri masyarakat multikultural menurut Pierre Van Den Berghe :
1.    Segmentasi (terbagi) ke dalam kelompok-kelompok.
2.    Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan bersama).
3.    Sering mengalami konflik.
4.    Integrasi sosial atas paksaan.
5.    Dominasi (penguasaan) suatu kelompok atas kelompok lain.
Penyebab Terciptanya Masyarakat Multikultural
1.    Bentuk Wilayah : negara kepulauan.
Terjadi isolasi geografis yang menyebabkan terjadinya kemajemukan suku bangsa / kemajemukan budaya.
2.    Keadaan Geografis : letak yang strategis di antara dua samudera dan dua benua.
Orang asing masuk ke Indonesia, dengan penjajahan dan perdagangan, terjadi kemajemukan agama.
3.    Perbedaan Cuaca dan Struktur Tanah
Perbedaan cuaca dan struktur tanah menyebabkan terjadinya kemajemukan mata pencaharian.

Konsekuensi Masyarakat Multikultural
a.     Konflik. Kondisi kemajemukan berpengaruh terhadap munculnya potensi konflik horizontal.
b.    Munculnya sikap Primordialisme. Yakni paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak lahir, baik mengenai tradisi, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Contohnya Memberikan prioritas atau perlakuan istimewa kepada orang-orang yang berasal dari daerah, suku bangsa, agama, atau ras tertentu.
c.     Munculnya sikap Etnosentrisme. Yakni sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain.
d.    Munculnya sikap Fanatik dan Ekstrem.  Fanatik adalah sangat kuat meyakini ajaran atau mendukung suatu kelompok. Kerusuhan antarsuporter sepak bola merupakan contoh negatif perilaku masyarakat multikultural yang didasari fanatisme.
Ekstrem yaitu fanatik, sangat keras dan teguh. Seorang ekstremis menganggap bahwa hanya pendapat kelompok sendirilah yang benar dan menolak pendapat dari luar kelompoknya.
e.    Politik Aliran. Ideologi nonformal yang dianut oleh anggota organisasi politik dalam suatu negara. Contohnya partai Islam atau partai Kristen. Namun dampak positif dari berkembangnya politik aliran yang terwujud dengan banyaknya partai politik adalah beragam saluran aspirasi.
Pemecahan Masalah Keanekaragaman
Setidaknya ada dua potensi yang bisa dijadikan dasar pijakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat yang multikultural seperti Indonesia
1.    Menggunakan Kearifan Lokal
2.    Menggunakan Kearifan Nasional

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.


Sosialisasi

Pada dasarnya, setiap manusia melakukan proses sosialisasi dari lahir hingga meninggalnya. Manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderung an untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Di dalam kehidupan masyarakat, manusia dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya melalui suatu proses. Proses penyesuaian diri terhadap masyarakat dalam sosiologi dinamakan proses sosialisasi.
Sosialisasi adalah suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, yang dimulai dari lingkungan keluarganya dan kemudian meluas pada masyarakat luas, lambat laun dengan keberhasilan penerimaan atau penyesuaian tersebut, maka individu akan merasa menjadi bagian dari keluarga atau masyarakat.
Ada dua macam sosialisasi, yaitu sebagai berikut.
1. Sosialisasi Primer (Primary Socialization) adalah sosialisasi yang pertama kali dijalani individu semasa kecil. Sosialisasi ini menjadi pintu bagi seseorang memasuki keanggotaan masyarakat.
2. Sosialisasi Sekunder (Secondary Socialization) Sosialisasi sekunder berlangsung pada tahap selanjutnya. Selama proses ini, individu mengenal sektor-sektor baru yang ada di masyarakat. Salah satu bentuk sosialisasi sekunder adalah resosialisasi. Resosialisasi adalah proses pemberian kepribadian baru kepada seseorang.
Secara umum, sosialisasi bertujuan untuk membentuk kepribadian. Kepribadian terbentuk melalui proses mempelajari pola-pola kebudayaan. Kebudayaan yang dipelajari meliputi nilai-nilai, norma-norma, beserta sanksi-sanksi yang akan diterima bila terjadi penyimpangan. Manusia tidak mungkin mengadakan sosialisasi tanpa melibatkan pihak atau unsur dari luar. Media sosialisasi adalah pihak-pihak yang menjadi perantara terjadinya sosialisasi. Berikut ini beberapa media sosialisasi.
1. Keluarga
Keluarga sebagai media pertama dalam proses sosialisasi mempunyai banyak peran, antara lain melatih penguasaan diri, pemahaman nilai-nilai dan norma- norma sosial, serta melatih anak dalam mempelajari peranan sosial.
2. Teman Sebaya
Media sosialisasi pada tahap berikutnya adalah kelompok teman sebaya atau teman sepermainan. Interaksi di antara teman sepermainan bertujuan untuk memperoleh kesenangan (rekreatif). Fungi utama kelompok teman sebaya dalam proses sosialisasi ialah sebagai berikut.
a. Terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya.
b. Kelompok teman sebaya menga- jarkan mobilitas sosial.
c. Kelompok teman sebaya memicu kesempatan seorang anak dalam memperoleh peran dan status baru.
3. Sekolah
Sekolah merupakan wiyata mandala (lembaga pendidikan). Suatu lingkungan yang memiliki tradisi dan budaya tersendiri. Lembaga ini menekankan kultur learning society (masyarakat belajar). Pem- budayaan belajar merupakan salah satu proses pembentukan kepri-badian siswa. Sekolah memiliki tiga fungsi: (1) fungsi kognitif, (2) fungsi psikomotorik, dan (3) fungsi afektif. Oleh karena itu, sekolah berperan dalam mentransfer pengetahuan, keterampilan atau keahlian, dan membentuk sikap.
4. Lingkungan Kerja
Di dalam lingkungan kerja manapun, seseorang akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Interaksi sosial itu membuat orang saling menerima dan memberi pengaruh. Terjadilah penyesuaian tingkah laku, baik penyesuaian antarpribadi maupun penyesuaian dengan lingkungan kerja secara umum.
5. Organisasi
Organisasi adalah sebuah tipe pembentukan kolektifitas yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Berikut adalah tiga bentuk organisasi yang biasa kita kenal di masyarakat.
1. Organisasi Sosial Kemasyarakatan. Misalnya: Forum Betawi Rembug (FBR), Persatuan Indonesia (Perindo) dan lain sebagainya.
2. Organisasi Sosial Keagamaan. Misalnya: NU dan Muhammadiyah.
3. Organisasi Profesi. Misalnya IKAOIN (Ikatan Advokat Indonesia), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).
6. Media Massa
Semua jenis media massa tidak secara langsung bertujuan untuk mengajari masyarakat. Akan tetapi, siaran berita, film, iklan, pertunjukan seni budaya, sampai dengan informasi ilmiah, berdampak sangat besar bagi perilaku warga masyarakat. Ada dua macam media massa, yaitu: 1) Media cetak meliputi buku, majalah, surat kabar, tabloid, dan buletin. 2) Media elektronik meliputi semua peralatan yang meng- gunakan daya listrik untuk menyampaikan informasi kepada khalayak ramai, misalnya radio, televisi, dan internet.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas X SMA dan MA. Vina Dwi Laning.

Rangking Kelas XI IPS 1 Semester 1 Tahun 2014


Kegiatan pembelajaran telah usai, waktunya mengetahui hasil capaian prestasi akademis selama 1 semester. Berikut ini adalah peringkat akademis kelas 11 IPS 1 pada semester 1 tahun pelajaran 2014 / 2015. Publikasi ini semata-mata untuk menjadikan motivasi belajar di semester berikutnya menjadi lebih baik. Selamat kepada ananda DIAH AYU PUSPITONINGRUM yang telah memperoleh hasil belajar terbaik di semester 1, semoga menjadi inspirasi bagi yang lainnya.



MPI Harmoni Sosial (K13)

MPI (Multimedia Pembelajaran Interaktif) Harmoni Sosial. Sesuatu yang sesuai dengan keinginan masyarakat umum, seperti keadaan tertib, teratur, aman dan nyaman itu perlu diperjuangkan. Kondisi ideal tersebut dapat disebut sebagai suatu kehidupan yang penuh harmoni. Harmoni sosial adalah kondisi dimana individu dapat hidup sejalan dan serasi dengan sesuai kodrat dan posisi sosialnya. Dalam harmoni sosial kita dapat menemukan dialog, toleransi, koeksistensi dan pembangunan yang didasarkan pada pluralisme, keberagaman, kompetisi dan kreativitas.
Harmoni sosial juga terjadi dalam masyarakat yang ditandai dengan solidaritas. Secara etimologi, solidaritas adalah kekompakkan atau kesetiakawanan. Kata solidaritas menggambarkan keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang berdasarkan pada perasan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Menciptakan kondisi yang harmonis pada masyarakat yang beragam tidaklah mudah, karena setiap kelompok memiliki budaya sendiri-sendiri. Penciptaan harmoni di masyarakat sebetulnya tergantung dari sikap dan perilaku kita sebagai warga masyarakat. Agar harmoni sosial terwujud dimasyarakat, prinsip kesetaraan hendaknya diterapkan di tengah-tengah diferensiasi dan stratifikasi sosial.

Efektivitas Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran Sosiologi

Efektivitas Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran Sosiologi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa dalam melaksanakan profesinya guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademis dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus dapat menghadirkan atmosfer pembelajaran yang berkesan dan bermakna. Dalam tataran ideal, Guru mampu bersinergi dalam mengembangkan materi ajar menjadi media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Pengembangan materi ajar yang menarik menjadi sebuah tuntutan agar proses pembelajaran tidak berlangsung membosankan. Dalam hal ini kreativitas dan inovasi Guru menjadi signifikan. Dengan memanfaatkan TIK sangat dimungkinkan untuk mengemas materi ajar dalam format digital interaktif.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dimensi pendidikan tidak dapat terelakkan. Faktanya tidak sedikit siswa yang betah berjam-jam asik dengan gadgetnya, misalnya: laptop, PC tablet, atau smartphone. Dengan mengakses internet mereka dapat mencari beragam informasi dan pengetahuan yang diinginkan atau sekadar menunjukkan eksistensinya melalui media sosial.
Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk kreatif mengembangkan metode pembelajaran yang menarik, inovatif dan menyenangkan. Pembelajaran inovatif yang memanfaatan TIK sebagai medianya bisa diwujudkan dalam bentuk pembelajaran berbasis multimedia interaktif dan media pembelajaran berbasis blog.
Proses pembelajaran tidak melulu tersekat oleh ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan tidak mutlak hanya didapat melalui lisan seorang guru, tetapi juga bisa diperoleh melalui berbagai referensi misalnya internet. Pada sisi lain, gaya mengajar guru pun mengalami transformasi dari model ceramah konvensional menjadi presentasi berbasis multimedia. Terlebih dalam kurikulum 2013 menuntut guru secara masif piawai menggunakan TIK sebagai penunjang proses pembelajaran. Menurut Reeves (1998), dalam proses pembelajaran terdapat dua pendekatan pokok dalam penggunaan TIK, yaitu siswa dapat belajar 'dari' dan 'dengan' TIK. Belajar 'dari' TIK dilakukan seperti dalam penggunaan computer-based instruction (tutorial) atau integrated learning system. Sedangkan belajar 'dengan' TIK adalah menggunakannya sebagai cognitive tools (alat bantu pembelajaran kognitif) dan lingkungan pembelajaran konstruktivis (constructivist learning environments). Dengan menggunakan TIK, idealnya dapat mengubah wajah pendidikan ke arah yang lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih efektif.
Berdasarkan kondisi di atas, peranan TIK sebagai penunjang proses pembelajaran menjadi sangat signifikan. Lebih-lebih pada era global sekarang, transformasi berjalan sangat cepat. Realitanya siswa bahkan dapat lebih mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan-perubahan yang ada. Penerapan TIK untuk proses belajar mengajar memiliki dua tantangan besar yaitu: (1) penerapan TIK sebagai ‘enabler’ efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran; dan (2) penerapan TIK untuk menghasilkan siswa berpengetahuan (knowladge-based student), yaitu mengambil keuntungan dari TIK untuk mengembangkan diri secara terus menerus (long life learning) dan meningkatkan produktivitas.

Peranan Blog sebagai Media Pembelajaran
Pembelajaran Sosiologi sering dihadapkan pada materi abstrak yang berada di luar pengalaman siswa sehari-hari. Hal ini berakibat pada interpretasi materi menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami oleh siswa. Visualisasi merupakan cara efektif untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak.
Dengan memanfaatkan TIK, peta konsep materi ajar (mind mapping) akan dengan mudah tervisualisasikan dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang bisa ditambahkan suara. Sajian audio visual yang dikenal dengan multimedia ini akan menjadikan visualisasi menjadi lebih menarik. TIK bukanlah teknologi yang dapat berdiri sendiri melainkan kombinasi dari berbagai instrumen antara hardware, software dan brainware. Hardware adalah perangkat keras seperti laptop/desktop, PC tablet, Smartphone, atau LCD Proyektor. Software adalah perangkat pendukung ketersediaan bahan ajar yang disajikan guru kepada siswa. Software bisa berupa penggunaan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) atau Media Presentasi (audio visual). Sedangkan braniware dapat diartikan sebagai perangkat intelektual yang mengoperasikan dan mengeksplorasi kemampuan dari hardware maupun software.
Blog singkatan dari web-log didefiisikan sebagai bentuk aplikasi web menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web di internet (http://id.wikipedia.org/wiki/Blog). Dalam pemanfaatannya sebagai penunjang proses pembelajaran, media blog dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan bahan ajar digital. Blog sebagai layanan aplikasi dari internet dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa sebagai sumber belajar tidak terbatas. Guru dapat mengisi semua informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Dilihat dari pihak lain, siswa dapat mengunduh informasi yang sesuai dengan topik dan tujuan yang diinginkan. Penggunaan blog sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai sumber belajar akan mengubah cara belajar dan teknik pembelajaran menjadi variatif. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu.
Blog lebih efektif dan efisien digunakan sebagai media pembelajaran karena memiliki banyak keuntungan. Blog lebih efektif karena materi pelajaran tidak hanya diberikan oleh guru di kelas, tetapi materi dapat diakses secara online melalui blog guru. Blog juga dianggap lebih efisien karena alokasi waktu yang seharusnya dipakai untuk menjelaskan materi pembelajaran di dalam kelas bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain misalnya: diskusi kelompok, presentasi antarkelompok, atau sharing dengan guru di kelas.

Pemanfaatan Media Blog dalam Proses Pembelajaran
Berikut ini adalah tahapan proses pembelajaran dengan memanfaatkan media blog, meliputi:
1. Tahap Prainstruksional
Tahap prainstruksional ini merupakan tahap pembelajaran secara tidak langsung (indirect) yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebelum menyampaikan materi secara teoretis, guru perlu memperhatikan kesiapan ranah berpikir siswa. Media pembelajaran yang paling tepat digunakan adalah media berbasis interaktif atau disebut Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI). Melalui MPI siswa dapat memperoleh konsep materi secara mandiri. MPI bisa disajikan menggunakan software Microsoft Powerpoint, Adobe Flash, Macromedia Flash, atau Lectora. Bahan ajar MPI kemudian diupload melalui media blog kemudian dibagikan (sharing) dengan memanfaatkan media sosial berupa: Facebook, Twitter, dan Google+.
Memanfaatkan media sosial merupakan cara efektif untuk mempublikasikan bahan ajar karena tidak dapat dipungkiri intensitas siswa mengakses media sosial sangat tinggi. Hal ini menjadi peluang strategis bagi guru untuk ikut menyelami dunia siswa yang eksis di media jejaring sosial. Gambar berikut merupakan contoh tampilan multimedia pembelajaran interaktif yang diupload guru melalui blog. 
2. Tahap Instruksional
Tahap ini merupakan tahap guru mengajar secara langsung (direct teaching), proses pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan karakteristik konten kompetensi. Dalam tahapan yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara komprehensif kepada siswa ini, guru dapat memanfaatkan beragam device guna menunjang efektivitas pembelajaran, misalnya: laptop, LCD projector, speaker active dan pointer ketika presentasi materi ajar berbasis multimedia (audio visual). Kelengkapan administrasi mengajar berupa: jurnal mengajar, kalender pendidikan, program tahunan (prota), program semester (promes), silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar digital, presensi siswa, dan intrumen penilaian dikemas dalam bentuk digital yang bisa diakses secara mobile dengan menggunakan PC Tablet. Hal ini lebih efektif dan efisien. Guru tidak perlu membawa tumpukan kertas yang berisi perangkat mengajar ketika berada di dalam kelas.
Melalui blog guru siswa dapat mengakses sumber-sumber belajar yang ada di dalamnya. Siswa dapat memanfaatkan halaman-halaman website yang menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan. Siswa dapat mengakses berbagai informasi sesuai dengan materi pembelajaran di kelas. Hal ini dapat melatih kemandirian siswa dalam mencari, menemukan, sekaligus menyeleksi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung materi yang disampaikan guru di kelas. Secara bertahap diharapkan akan terbentuk kreativitas siswa dalam mengumpulkan informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran.
Pemanfaatan media blog ini juga dapat meningkatkan kreativitas guru dalam menyajikan bahan ajar. Secara tidak langsung siswa dapat menilai sejauh mana guru melakukan eksplorasi terhadap materi pembelajaran yang diberikan pada siswa. Sebagus apapun media yang digunakan oleh guru jika tidak diikuti dengan konten (muatan) materi yang mendalam tetap saja akan menjemukan bagi siswa. Sehingga guru juga lebih tertantang untuk selalu meng-update materi sajian secara rutin
3. Tahap Evaluasi dan Tahap Tindak Lanjut
Tahap ini merupakan tahapan mengevaluasi hasil belajar siswa sesuai dengan standar penilaian pendidikan. Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Instrumen yang bisa dimanfaatkan guru untuk melaksanakan evaluasi adalah dengan metode evaluasi secara online. Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk melaksanakan evaluasi online baik berbasis web (html) ataupun berbasis flash, yaitu: Google Form, Proprofs, Edmodo, Quipper School, Wondershare Quiz Creator, Question Writer, dan Macromedia Flash. Dengan evaluasi secara online bukan hanya nilai yang bisa langsung dilihat hasilnya secara realtime, melainkan juga bisa menganalisis butir soal dari instrumen evaluasi online tersebut. Instrumen evaluasi yang dibuat menggunakan Google Form dapat disematkan (embed) ke dalam halaman blog guru. Dengan catatan template blog harus responsive. Artinya halaman blog bisa diakses dengan baik menggunakan PC tablet atau Smartphone. Hal ini penting untuk mengakomodasi siswa yang tidak memiliki laptop. Proses penilaian yang dilakukan melalui media blog dapat dilihat pada gambar berikut:
Simpulan
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan pembelajaran juga harus dikemas sesuai dengan kebutuhan siswa dalam menghadapi tantangan dunia modern. Siswa yang sudah akrab dengan berbagai kegiatan jejaring sosial melalui media internet akan merasa bosan ketika harus berkutat dengan teori-teori yang ada dalam buku. Guru sebagai pendamping siswa dalam belajar harus mampu memanfaatkan situasi tersebut guna mengarahkannya menjadi sarana belajar. Media blog menjadi sarana paling efektif dalam pelaksanaan pembelajaran.
Penulis menyarankan pada rekan-rekan guru terutama yang mengampu mata pelajaran sosiologi untuk menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Hal ini dilakukan karena media blog terbukti mempunyai banyak kelebihan dibanding media berbasis teknologi informasi lain dalam mendampingi proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
BPTIKP. 2014. Panduan Kegiatan Pengembangan dan Pengayaan Sumber Belajar. Semarang.
Reeves, T.C. 1998. The impact of media and technology in schools. A research report prepared for the Bertelsmann Foundation. Amerika Serikat: University of Georgia.

Berikut ini adalah video pemanfaatan TIK dalam pembelajaran Sosiologi. Semoga menginspirasi.
Gagasan ini merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK). Sekaligus partisipasi aktif dalam lomba Guru Blogger Inspiratif 2014 yang diinisiasi oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF).

 

© 2015 | Fahdisjro El Besra. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top