Efektivitas Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran Sosiologi

Efektivitas Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran Sosiologi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa dalam melaksanakan profesinya guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademis dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus dapat menghadirkan atmosfer pembelajaran yang berkesan dan bermakna. Dalam tataran ideal, Guru mampu bersinergi dalam mengembangkan materi ajar menjadi media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Pengembangan materi ajar yang menarik menjadi sebuah tuntutan agar proses pembelajaran tidak berlangsung membosankan. Dalam hal ini kreativitas dan inovasi Guru menjadi signifikan. Dengan memanfaatkan TIK sangat dimungkinkan untuk mengemas materi ajar dalam format digital interaktif.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dimensi pendidikan tidak dapat terelakkan. Faktanya tidak sedikit siswa yang betah berjam-jam asik dengan gadgetnya, misalnya: laptop, PC tablet, atau smartphone. Dengan mengakses internet mereka dapat mencari beragam informasi dan pengetahuan yang diinginkan atau sekadar menunjukkan eksistensinya melalui media sosial.
Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk kreatif mengembangkan metode pembelajaran yang menarik, inovatif dan menyenangkan. Pembelajaran inovatif yang memanfaatan TIK sebagai medianya bisa diwujudkan dalam bentuk pembelajaran berbasis multimedia interaktif dan media pembelajaran berbasis blog.
Proses pembelajaran tidak melulu tersekat oleh ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan tidak mutlak hanya didapat melalui lisan seorang guru, tetapi juga bisa diperoleh melalui berbagai referensi misalnya internet. Pada sisi lain, gaya mengajar guru pun mengalami transformasi dari model ceramah konvensional menjadi presentasi berbasis multimedia. Terlebih dalam kurikulum 2013 menuntut guru secara masif piawai menggunakan TIK sebagai penunjang proses pembelajaran. Menurut Reeves (1998), dalam proses pembelajaran terdapat dua pendekatan pokok dalam penggunaan TIK, yaitu siswa dapat belajar 'dari' dan 'dengan' TIK. Belajar 'dari' TIK dilakukan seperti dalam penggunaan computer-based instruction (tutorial) atau integrated learning system. Sedangkan belajar 'dengan' TIK adalah menggunakannya sebagai cognitive tools (alat bantu pembelajaran kognitif) dan lingkungan pembelajaran konstruktivis (constructivist learning environments). Dengan menggunakan TIK, idealnya dapat mengubah wajah pendidikan ke arah yang lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih efektif.
Berdasarkan kondisi di atas, peranan TIK sebagai penunjang proses pembelajaran menjadi sangat signifikan. Lebih-lebih pada era global sekarang, transformasi berjalan sangat cepat. Realitanya siswa bahkan dapat lebih mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan-perubahan yang ada. Penerapan TIK untuk proses belajar mengajar memiliki dua tantangan besar yaitu: (1) penerapan TIK sebagai ‘enabler’ efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran; dan (2) penerapan TIK untuk menghasilkan siswa berpengetahuan (knowladge-based student), yaitu mengambil keuntungan dari TIK untuk mengembangkan diri secara terus menerus (long life learning) dan meningkatkan produktivitas.

Peranan Blog sebagai Media Pembelajaran
Pembelajaran Sosiologi sering dihadapkan pada materi abstrak yang berada di luar pengalaman siswa sehari-hari. Hal ini berakibat pada interpretasi materi menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami oleh siswa. Visualisasi merupakan cara efektif untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak.
Dengan memanfaatkan TIK, peta konsep materi ajar (mind mapping) akan dengan mudah tervisualisasikan dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang bisa ditambahkan suara. Sajian audio visual yang dikenal dengan multimedia ini akan menjadikan visualisasi menjadi lebih menarik. TIK bukanlah teknologi yang dapat berdiri sendiri melainkan kombinasi dari berbagai instrumen antara hardware, software dan brainware. Hardware adalah perangkat keras seperti laptop/desktop, PC tablet, Smartphone, atau LCD Proyektor. Software adalah perangkat pendukung ketersediaan bahan ajar yang disajikan guru kepada siswa. Software bisa berupa penggunaan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) atau Media Presentasi (audio visual). Sedangkan braniware dapat diartikan sebagai perangkat intelektual yang mengoperasikan dan mengeksplorasi kemampuan dari hardware maupun software.
Blog singkatan dari web-log didefiisikan sebagai bentuk aplikasi web menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web di internet (http://id.wikipedia.org/wiki/Blog). Dalam pemanfaatannya sebagai penunjang proses pembelajaran, media blog dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan bahan ajar digital. Blog sebagai layanan aplikasi dari internet dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa sebagai sumber belajar tidak terbatas. Guru dapat mengisi semua informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Dilihat dari pihak lain, siswa dapat mengunduh informasi yang sesuai dengan topik dan tujuan yang diinginkan. Penggunaan blog sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai sumber belajar akan mengubah cara belajar dan teknik pembelajaran menjadi variatif. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu.
Blog lebih efektif dan efisien digunakan sebagai media pembelajaran karena memiliki banyak keuntungan. Blog lebih efektif karena materi pelajaran tidak hanya diberikan oleh guru di kelas, tetapi materi dapat diakses secara online melalui blog guru. Blog juga dianggap lebih efisien karena alokasi waktu yang seharusnya dipakai untuk menjelaskan materi pembelajaran di dalam kelas bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain misalnya: diskusi kelompok, presentasi antarkelompok, atau sharing dengan guru di kelas.

Pemanfaatan Media Blog dalam Proses Pembelajaran
Berikut ini adalah tahapan proses pembelajaran dengan memanfaatkan media blog, meliputi:
1. Tahap Prainstruksional
Tahap prainstruksional ini merupakan tahap pembelajaran secara tidak langsung (indirect) yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebelum menyampaikan materi secara teoretis, guru perlu memperhatikan kesiapan ranah berpikir siswa. Media pembelajaran yang paling tepat digunakan adalah media berbasis interaktif atau disebut Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI). Melalui MPI siswa dapat memperoleh konsep materi secara mandiri. MPI bisa disajikan menggunakan software Microsoft Powerpoint, Adobe Flash, Macromedia Flash, atau Lectora. Bahan ajar MPI kemudian diupload melalui media blog kemudian dibagikan (sharing) dengan memanfaatkan media sosial berupa: Facebook, Twitter, dan Google+.
Memanfaatkan media sosial merupakan cara efektif untuk mempublikasikan bahan ajar karena tidak dapat dipungkiri intensitas siswa mengakses media sosial sangat tinggi. Hal ini menjadi peluang strategis bagi guru untuk ikut menyelami dunia siswa yang eksis di media jejaring sosial. Gambar berikut merupakan contoh tampilan multimedia pembelajaran interaktif yang diupload guru melalui blog. 
2. Tahap Instruksional
Tahap ini merupakan tahap guru mengajar secara langsung (direct teaching), proses pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan karakteristik konten kompetensi. Dalam tahapan yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara komprehensif kepada siswa ini, guru dapat memanfaatkan beragam device guna menunjang efektivitas pembelajaran, misalnya: laptop, LCD projector, speaker active dan pointer ketika presentasi materi ajar berbasis multimedia (audio visual). Kelengkapan administrasi mengajar berupa: jurnal mengajar, kalender pendidikan, program tahunan (prota), program semester (promes), silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar digital, presensi siswa, dan intrumen penilaian dikemas dalam bentuk digital yang bisa diakses secara mobile dengan menggunakan PC Tablet. Hal ini lebih efektif dan efisien. Guru tidak perlu membawa tumpukan kertas yang berisi perangkat mengajar ketika berada di dalam kelas.
Melalui blog guru siswa dapat mengakses sumber-sumber belajar yang ada di dalamnya. Siswa dapat memanfaatkan halaman-halaman website yang menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan. Siswa dapat mengakses berbagai informasi sesuai dengan materi pembelajaran di kelas. Hal ini dapat melatih kemandirian siswa dalam mencari, menemukan, sekaligus menyeleksi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung materi yang disampaikan guru di kelas. Secara bertahap diharapkan akan terbentuk kreativitas siswa dalam mengumpulkan informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran.
Pemanfaatan media blog ini juga dapat meningkatkan kreativitas guru dalam menyajikan bahan ajar. Secara tidak langsung siswa dapat menilai sejauh mana guru melakukan eksplorasi terhadap materi pembelajaran yang diberikan pada siswa. Sebagus apapun media yang digunakan oleh guru jika tidak diikuti dengan konten (muatan) materi yang mendalam tetap saja akan menjemukan bagi siswa. Sehingga guru juga lebih tertantang untuk selalu meng-update materi sajian secara rutin
3. Tahap Evaluasi dan Tahap Tindak Lanjut
Tahap ini merupakan tahapan mengevaluasi hasil belajar siswa sesuai dengan standar penilaian pendidikan. Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Instrumen yang bisa dimanfaatkan guru untuk melaksanakan evaluasi adalah dengan metode evaluasi secara online. Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk melaksanakan evaluasi online baik berbasis web (html) ataupun berbasis flash, yaitu: Google Form, Proprofs, Edmodo, Quipper School, Wondershare Quiz Creator, Question Writer, dan Macromedia Flash. Dengan evaluasi secara online bukan hanya nilai yang bisa langsung dilihat hasilnya secara realtime, melainkan juga bisa menganalisis butir soal dari instrumen evaluasi online tersebut. Instrumen evaluasi yang dibuat menggunakan Google Form dapat disematkan (embed) ke dalam halaman blog guru. Dengan catatan template blog harus responsive. Artinya halaman blog bisa diakses dengan baik menggunakan PC tablet atau Smartphone. Hal ini penting untuk mengakomodasi siswa yang tidak memiliki laptop. Proses penilaian yang dilakukan melalui media blog dapat dilihat pada gambar berikut:
Simpulan
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan pembelajaran juga harus dikemas sesuai dengan kebutuhan siswa dalam menghadapi tantangan dunia modern. Siswa yang sudah akrab dengan berbagai kegiatan jejaring sosial melalui media internet akan merasa bosan ketika harus berkutat dengan teori-teori yang ada dalam buku. Guru sebagai pendamping siswa dalam belajar harus mampu memanfaatkan situasi tersebut guna mengarahkannya menjadi sarana belajar. Media blog menjadi sarana paling efektif dalam pelaksanaan pembelajaran.
Penulis menyarankan pada rekan-rekan guru terutama yang mengampu mata pelajaran sosiologi untuk menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Hal ini dilakukan karena media blog terbukti mempunyai banyak kelebihan dibanding media berbasis teknologi informasi lain dalam mendampingi proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
BPTIKP. 2014. Panduan Kegiatan Pengembangan dan Pengayaan Sumber Belajar. Semarang.
Reeves, T.C. 1998. The impact of media and technology in schools. A research report prepared for the Bertelsmann Foundation. Amerika Serikat: University of Georgia.

Berikut ini adalah video pemanfaatan TIK dalam pembelajaran Sosiologi. Semoga menginspirasi.
Gagasan ini merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK). Sekaligus partisipasi aktif dalam lomba Guru Blogger Inspiratif 2014 yang diinisiasi oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF).

Daftar Nilai Semester Ganjil (2014)

Berikut ini adalah daftar nilai mata pelajaran Sosiologi kelas 11 semester 1 tahun 2014. Nilai tersebut merupakan penilaian kognitif yang berdasarkan hasil ulangan setiap Kompetensi Dasar (KD).
Penjelasan:
KD 3.1. Materi Kelompok Sosial
KD 3.2. Materi Permasalahan Sosial
KD 3.3. Materi Keberagaman Kesetaraan & Harmoni Sosial
Bagi kalian yang belum mencapai nilai KKM (=70), segera menghadap untuk remediasi (perbaikan nilai).

Keberagaman dan Kesetaraan Sosial

Indonesia merupakan wilayah yang terdiri dari beberapa pulau dengan karateristik yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Perbedaan tersebut dapat meliputi perbedaan ras, agama, mata pencaharian, suku, adat istiadat, norma, dan lain sebagainya. Keberagaman yang ada di Indonesia menjadikan setiap individu yang berasal dari setiap daerah memiliki tingkah laku dan aktivitas yang berbeda-beda.
Keberagaman Manusia
Keberagaman manusia yaitu manusia yang memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut ditinjau dari sifat-sifat pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan hasrat. Selain individu, terdapat juga keragaman sosial. Jika keragaman individu terletak pada perbedaan secara individu atau perorangan, sedangkan keragaman sosial terletak pada keragaman dari masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.
Kesetaraan Manusia
Kesetaraan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain. Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki tingkat atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan tersebut bersumber dari adanya pandangan bahwa semua manusia diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain.
Kesetaraan Sosial adalah tata politik sosial di mana semua orang yang berada dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Kesetaraan mencangkup hak yang sama di bawah hukum, merasakan keamanan, memperoleh hak suara, memiliki kebebasan dalam berbicara, dan hak lainnya yang sifatnya personal.
Faktor Penyebab Keberagaman Sosial
Indonesia memiliki perbedaan suku bangsa, etnis, agama, bahasa, kesenian, dan kedaerahan yang dianggap sebagai karakteristik dalam kehidupan sosial. Meskipun masyarakat Indonesia bersifat majemuk, namun manusia pada hakekatnya adalah sama dan sederajat. Keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak terlepas dari faktor penyebabnya. Adapun faktor penyebab keberagaman sosial, yaitu: (1) Faktor Sejarah; (2) Faktor Geografis.
Keberagaman dalam dinamika Sosial
Struktur masyarakat Indonesia yang beragam ditandai oleh ciri-ciri yang unik. Secara horizontal, mereka ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, perbedaan adat, serta perbedaan kedaerahan. Sedangkan secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Berikut akan diuraikan tentang keberagaman yang ada di Indonesia yang meliputi ras, etnik (suku bangsa), agama, mata pencaharian, jenis kelamin, dan norma sosial.
Keberagaman dan Kesetaraan sebagai Kekayaan Sosial  
Setiap manusia dilahirkan sama atau setara antara satu dengan lainnya, meskipun dalam masyarakat, terdapat keragaman identitas. Kesetaraan dan keberagaman yang ada di masyarakat menunjukkan tingkatan yang sama, kedudukan yang sama meskipun dalam masyarakat yang majemuk. Adanya kesetaraan dan keberagaman sosial di masyarakat dapat memberikan kekayaan sosial.
1. Keberagaman sebagai Kekayaan Sosial
Keragaman yang terdapat dalam kehidupan sosial manusia melahirkan masyarakat majemuk. Seperti di Indonesia, adanya masyarakat majemuk dapat dikarenakan kemajemukan etnik atau suku bangsa. Beragamnya etnik di Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata. Etnik atau suku bangsa menjadi identitas sosial budaya seseorang. Artinya, identifikasi seseorang dapat dikenali dari Bahasa, tradisi, budaya, dan kepercayaan yang bersumber dari etnik di mana ia berasal.
2. Kesetaraan sebagai Kekayaan Sosial
Hubungan antarmanusia dan lingkungan masyarakat pada umumnya memiliki sifat timbal-balik. Artinya, individu yang menjadi anggota masyarakat memiliki hak dan kewajiban. Beberapa hak dan kewajiban telah ditetapkan dalam undang-undang (konstitusi) dan telah menjadi hak dan kewajiban asasi, seperti yang tercantum dalam Pasal 27 ayat 1 UUD 1945. Pada pasal tersebut jelas mengakui adanya kesetaraan dan kesederajatan yang diakui oleh Negara melalui UUD 1945. Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata-pranata sosial.
Masalah Keberagaman dan Solusinya dalam Kehidupan Masyarakat      
Indonesia yang terdiri dari beberapa daerah dapat memberikan keberagaman, baik dalam kehidupan sosial maupun budaya. Adanya keberagaman ini juga dapat memicu munculnya konflik. Oleh karena itu, kita harus selalu menghormati dan menghargai perbedaan yang ada dalam masyarakat agar dapat mencegah munculnya konflik.
1. Masalah Keberagaman di Masyarakat
Keberagaman bangsa Indonesia yang terdiri dari adanya perbedaan suku bangsa, bahasa, status sosial; mata pencaharian dapat berpontensi negatif terhadap munculnya masalah. Keberagaman yang ada di masyarakat dapat berpotensi menimbulkan, seperti:
a. Segmentasi kelompok.
b. Konsesus yang lemah.
c. Munculnya konflik.
d. Integrasi yang dipaksakan.
2. Solusi untuk Mengatasi Masalah Keberagaman di Masyarakat
Upaya untuk menghindari adanya perpecahan di masyarakat yang diakibatkan adanya keberagaman yaitu melalui pembangunan yang merata di semua lapisan masyarakat. Pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah semata, namun juga dibutuhkan adanya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara keduanya. Pembangunan harus diperuntukan bagi semua lapisan masyarakat, sehingga dapat mencapai kesejahteraan bersama.
Mengembangkan Sikap Harmonis terhadap Keberagaman Sosial di Masyarakat
Perbedaan memang wajar dalam kehidupan sosial di masyarakat. Perbedaan tersebut menjadikan karakteristik masyarakat menjadi beragam. Manusia dengan segala perbedaan tersebut berfikir bahwa harus membentengi dan menghindarinya. Adanya pebedaan tersebut harus kita sikapi dengan baik dan sudah seharusnya menjadikan hal tersebut menjadi perubahan yang lebih baik. Sebagai anggota masyarakat, kamu wajib menjaga keharmonisan dalam lingkungan masyarakat. Beberapa sikap yang dapat dilakukan untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat, antara lain:
1. Adanya kesadaran mengenai perbedaan sikap, watak, dan sifat.
2. Menghargai berbagai macam karakteristik masyarakat.
3. Bersikap ramah dengan orang lain
4. Selalu berfikir positif.
Referensi:
Suparmin, Lia Candra & Slamet Subitantoro. 2014. Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk Kelas SMA/MA Kelas XI. Surakarta: Mediatama


Foto Pelatihan Kurikulum 2013

Momen kebersamaan mengikuti Pelatihan Kurikulum 2013 bersama rekan-rekan Guru Sosiologi se-Jawa Tengah. Kegiatan Pelatihan Kurikulum 2013 tahap 3 ini, diselenggarakan oleh LPMP Prov. Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan selama 5 hari, 30 September – 4 Oktober 2014. Bertempat di Hotel Pramesthi Jalan Ahmad Yani 101 Kartosuro Sukoharjo (Solo). Semoga silaturahmi tetap terjalin.

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Sejarah Perkembangan Sosiologi. Sosiologi lahir sejak manusia mulai bertanya tentang masyarakat, terutama tentang perubahannya. Ratusan tahun sebelum Masehi, pertanyaan tentang perubahan masyarakat sudah muncul. Namun, sosiologi dalam pengertian sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir belasan abad kemudian. Berikut ini kronologi sejarah perkembangan ilmu sosiologi.
1. Perkembangan Awal
Para pemikir Yunani Kuno, terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles, beranggapan bahwa masyarakat terbentuk begitu saja. Masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran tanpa ada yang bisa mencegah. Kemakmuran dan krisis dalam masyarakat merupakan masalah yang tidak terelakkan. Anggapan tersebut terus dianut semasa Abad Pertengahan (abad V Masehi sampai akhir abad XIV Masehi). Para pemikir, seperti Agustinus, Avicenna (Ibnu Sina), dan Thomas Aquinas menegaskan bahwa nasib masyarakat harus diterima sebagai bagian dari kehendak Ilahi. Sebagai makhluk yang fana manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi pada masyarakat. Pertanyaan (mengapa bisa begini atau mengapa bisa begitu) dan pertanggungjawaban ilmiah (buktinya ini atau itu) tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa itu.
2. Abad Pencerahan: Rintisan Kelahiran Sosiologi
Sosiologi modern berakar pada karya para pemikir Abad Pencerahan; abad XVII Masehi. Abad itu ditandai oleh beragam penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Derasnya perkembangan ilmu pengetahuan membawa pengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat. Pandangan itu harus juga berciri ilmiah. Artinya perubahan yang terjadi dalam masyarakat harus dapat dijelaskan secara masuk akal (rasional); berpedoman pada akal budi manusia. Caranya dengan menggunakan metode ilmiah. Francis Bacon dari Inggris, Rene Descartes dari Prancis, dan Wilhelm Leibnitz dari Jerman merupakan sejumlah pemikir yang menekankan pentingnya metode ilmiah untuk mengamati masyarakat.
3. Abad Revolusi: Pemicu Lahirnya Sosiologi
Perubahan pada Abad Pencerahan membawa perubahan revolusioner sepanjang abad XVIII Masehi. Perubahan itu dikatakan revolusioner karena struktur (tatanan) masyarakat lama dengan cepat berganti dengan struktur yang baru. Revolusi sosial yang paling jelas tampak dalam Revolusi Amerika, Revolusi Industri, dan Revolusi Prancis, Ketiga revolusi itu berpengaruh ke seluruh dunia. Hal ini wajar mengingat kawasan Asia dan Afrika ketika itu sedang menjadi daerah koloni Eropa.
Pada Revolusi Amerika, koloni Inggris di Amerika Utara ini membentuk negara republik yang demokratis. Pemerintahan jenis ini baru pertama kali muncul saat itu, ketika kebanyakan negara membentuk pemerintahan monarki. Gagasan tentang kedaulatan rakyat (rakyat yang berkuasa) dan pentingnya hak asasi manusia (semua orang bermartabat sama) telah mengubah susunan serta kedudukan orang dan kelompok dalam masyarakat.
Pada masa Revolusi Industri muncul kalangan baru dalam masyarakat, yaitu kaum kapitalis yang memiliki modal untuk membuat usaha, serta kaum bangsawan dan rohaniwan yang sebelumnya lebih berkuasa mulai disaingi kaum kapitalis yang mengandalikan ekonomi. Kemudian, muncul kesadaran akan hak asasi manusia dan persamaan semua orang di hadapan hukum yang mengakibatkan terjadinya Revolusi Prancis. Pada saat itu, rakyat menggulingkan kekuasaan bangsawan yang dianggap bersenang-senang di atas penderitaan rakyat lalu membentuk pemerintahan yang lebih demokratis.
Revolusi-revolusi ini menyebabkan berbagai perubahan dan gejolak dalam masyarakat. Tatanan yang telah berusia ratusan tahun dalam masyarakat diobrak-abrik dan dijungkirbalikkan. Perubahan ini tidak jarang disertai peperangan, pemberontakan, dan kerusuhan yang membawa kemiskinan dan kekacauan. Karena itulah, para ilmuwan tergugah untuk mencari cara menganalisis perubahan secara rasional dan ilmiah sehingga dapat diketahui sebab dan akibatnya. Tujuannya, agar bencana yang terjadi akibat perubahan dalam masyarakat bisa diantisipasi dan dihindari.
Referensi:
Idianto Muin. 2013. Sosiologi untuk SMA / MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga.

 

© 2014 Fahdisjro Blog. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top