Khutbah Jumat; Kritik Sosial

Ungkapan terdalam dari sanubari kita adalah senantiasa memanjatkan syukur ke hadirat Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Berkat kasih dan kebesaran-Nya kita dapat kembali hadir dalam suasana menunaikan jemaah shalat Jumat. Dengan sendirinya, kita semakin memantapkan hati dan niat, karena kehadiran Allah dalam setiap langkah, gerak dan setiap tarikan nafas kita, untuk bertakwa dan berikhtiar menyempurnakan ketakwaan kita.
Dalam kesibukan kita menghadapi hari-hari kerja dan beraktivitas tentu saja penuh dengan kelelahan dan berpeluh keringat. Seringkali tak ada lagi waktu tersisa untuk merenungkan hidup dan untuk mencari makna kehidupan kita sehingga rnelahirkan suatu kekosongan jiwa dan kesepian jiwa yang sangat berat menekan. Hal ini menjadi ciri kehidupan manusia modern di kota-kota besar yang menjadi pusat kehidupan manusia yang penuh sesak.
Manusia menderita ketakutan, kecemasan, frustasi dan stres. Bahkan banyak orang mengkhawatirkan akan menemui ajalnya dalam kondisi yang tidak wajar karena penyakit aneh, dibayangi ketakutan musuhnya ataupun lebih memilih bunuh diri. Seorang ahli ilmu jiwa kenamaan Jung, mendapati bahwa krisis terbesar manusia modern pada pertengahan umurnya adalah dikarenakan oleh lenyapnya kepercayaan agama. Di Amerika 50% dari tempat tidur rumah sakit ditempati oleh para penderita penyakit jiwa, meskipun di sana ilmu pengetahuan dan teknologi maju sangat pesat.
Pada kesempatan yang penuh uasana kedamaian ini, saat kita berkumpul bersama saudara-saudara seiman, kita perlu merenungi secara jujur dan terbuka tentang keadaan kita secara pribadi sekaligus sebagai umat yang terpilih.
Jemaah Shalat Jum'at yang Berbahagia,
'Kita merasa prihatin', suatu ungkapan yang sering kita dengar, yang diungkapkan oleh kalangan agamawan dan tokoh pimpinan keagamaan. Keprihatinan, suatu ungkapan sederhana dari sebuah rasa ketidakpuasan. Sebagai refleksi batin dan curahan perasaan terdalam, keprihatinan merupakan reaksi terhadap keadaan di lingkungan kita, terhadap orang-orang di sekitar kita ataupun berbagai keputusan yang terkait dengan masyarakat. Boleh jadi karena tidak setuju, tidak puas ataupun merupakan pertentangan, karena berbeda pendapat.
Dalam bahasa agama, keprihatinan menjadi bagian dari ungkapan bahasa dakwah, yang arti sederhananya: mengajak, menyeru ataupun mendorong. Dakwah itu sendiri sebagai perwujudan amar ma’raf nahy munkar, penegakan kebaikan dan penghapusan kemunkaran. Dengan kata lain, dalam dakwah itu terdapat usaha untuk melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.
Khutbah Jumat hanya menjadi media dakwah salah satunya. Cara lainnya disampaikan melalui dakwah terbuka, diskusi, dialog, seminar ataupun dakwah monologis di layar kaca. Bahkan, sebagian ilmuwan kita mengekspresikannya lewat tulisan di berbagai media cetak. Dari berbagai forum itulah kita mendapatkan gambaran adanya kecenderungan dakwah kritik yang semarak dan hangat. Dakwah Islam, seperti halnya khutbah Jumat, tidak saja berisi ajaran dan cerita tentang ibadah dan keakhiratan tetapi juga kepedulian kritis para muballig, dan cendekiawan kita dalam merespon atau menyikapi persoalan sosial yang sangat kompleks.
Yang sangat menggembirakan adalah, para da`i yang ikut menyuarakan sikap responsif keagamaan tersebut demikian bervariasi. Bukan hanya para kiai, ustadz ataupun sarjana agama lulusan perguruan tinggi agama ataupun plus pesantren, tetapi juga para aktivis keislaman dari kalangan mahasiswa, dosen, termasuk pengusaha, birokrat dan tokoh militer. Tidak ketinggalan pula kelompok artis, seniman dan budayawan angkat bicara soal agama. Pembicaraan tentang agama menjadi trend, pop dan aktual dalam banyak kesempatan. Yang menarik disoroti adalah soal muncul dan berkembangnya pola dakwah kritik ataupun kritik dakwah.
Hadirin yang Mulia,
Seiring dengan fenomena tersebut maka mulai memudar berbagai konsep keagamaan semisal ulama, santri ataupun ustadz. Yang tadinya persepsi itu hanya melekat pada orang yang menempuh pendidikan formal keagamaan di pesantren, madrasah dan Perguruan Tinggi Islam, kini juga melekat pada para aktivis kerohanian Islam di kalangan mahasiswa, dosen dan kalangan pengusaha ataupun birokrat. Pembicaraan soal agama tidak lagi menjadi monopoli kelompok tertentu, tetapi lebih meluas pada berbagai lapisan masyarakat secara menyeluruh.
Munculnya dakwah kritik tersebut sebagai kritik terhadap dakwah yang selama ini oleh sebagian pihak disampaikan hanya pada tataran verbal atau tradisi lisan dan penuh dengan dogma dan doktrin semata. Dakwah hanya disuarakan lantang di podium dengan slogan dan hiburan yang menggambarkan sekitar pahala dan dosa, ura dan neraka, ataupun janji-janji kehidupan akhirat. Dakwah dipandang kurang membumi dan membudaya di kalangan umat. Sementara corak dakwah kritik lebih menekankan aksi dinamis dari pesan-pesan dakwahnya.
Nabi Muhammad saw. dengan risalahnya mewakili gambaran peran agama di bumi ini sebagai kritik sosial sebagaimana juga agama yang dianut para nabi dan rasul pendahulunya. Agama senantisa berhadapan dengan keadaan di lingkungannya, dan pada kali lainnya, menjadi sarana peneguh dan penguat tentang keberlakuan suatu moral atau praktik sosial. Intinya, agama juga memiliki fungsi kritik untuk melakukan perubahan. Hal itu dapat kita lihat dalam berbagai ilustrasi dari ayat-ayat Alquran.
Kritik dalam bahasa agama dekat dengan pengertian nasihat (nashihat), dakwah ‘amar ma’ruf nahy munkar, dan 'mau'izhah hasanah', dan sebagainya. Kemampuan 'menyeru' pada kebenaran disertai dengan manfaat bagi orang lain dan diri berupa pahala dan Allah swt. Kritik dengan niat yang baik dapat bermakna Salah satu sabda Nabi saw. dalam riwayat Imam Muslim menjelaskan:
Artinya: "Siapa yang mengajak kepada petunjuk yang benar, ia mendapat pahala seperti beberapa pahala orang yang mau mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun hal itu dari beberapa pahala mereka. ditimpakan dosa seperti beberapa dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun hal itu dari beberapa dosa mereka." (H.R. Muslim)
Di dalam Alquran banyak terdapat ayat yang menekankan pentingnya kedudukan manusia yang memiliki kekuatan dan kemampuan berfikir, berdaya cipta dan menyatakan pendapatnya. Islam melarang adanya sikap arogan, sombong dan takabur dalam menyampaikan kritik dan pendapat. Kritik yang hanya sekedar berniat menjatuhkan dan mencelakakan orang lain hanya akan mengakibatkan kerusakan dan akan menimbulkan kerugian di pihak manapun. Kritik yang hanya dijadikan tujuan akan menunjukkan sikap seolah-olah orang lain selalu salah dan dirinya merasa benar. Orang yang demikian akan menjadi 'merugi' sebagaimana dilukiskan dalam Alquran Surat Al Kahfi (18) : 103-104 yang berbunyi:
Artinya: “Katakanlah, apakah akan kami beritahukan kepadarnu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang orang yang telah sesat perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka me-nyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. "
[Q.S. Al Kahfi (18) : 104]
Dalam ajaran Islam juga ditekankan pentingnya sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima saran, kritik ataupun pendapat. Bahkan, sikap keterbukaan tersebut seiring dengan tingkat mutu keimanan dan amal saleh seseorang. Dalam surat Al `Ashr (103) : 1-3 dinyatakan:
Artinya: "Demi waktu. Sungguh manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh dan saling memberi wasiat untuk tegaknya kebenaran dengan haq dan saling berpesan dengan kesabaran (ketabahan)." [Q.S. Al 'Ashr (103) : 1-3]
Dengan halus sekali Allah menitahkan untuk meraba-raba kemampuan sendiri dan memulai koreksi terhadap diri sendiri. Terlebih sikap yang demikian dikaitkan dengan perintah untuk mengukuhkan keimanan dan ketakwaan.
Hadhirin Rahimakumullah,
Yang ingin kita telusuri adalah memetakan berbagai ungkapan dan berusaha merekam sikap kritis para juru dakwah umat Islam. Keprihatinan para ulama dan cendekiawan dapat mewakili jeritan kelompok dhu’afa, mereka yang tertindas, para pencari keadilan dan harapan orang-orang miskin. Upaya untuk menggambarkan tentang apa yang menjadi keprihatinan, dapat memberikan hikmah bagaimana seyogyanya umat Islam menghadapi masalah sosial dan sekaligus melihat sejauhmana efektifitas dakwah kritik tersebut dilakukan bagi perubahan untuk keadilan sosial yang lebih luas.
Pertama, kritik ketuhanan yang menekankan ajaran tauhid sebagai pusat dan inti ajaran. Ajaran Tauhid banyak tercemari oleh bid`ah, takhayul dan mistik serta isu yang mengarah pada praktik kemusyrikan. Tampaknya, masyarakat kita yang dipandang semakin modern ini makin percaya pada persoalan kegaiban dan perdukunan, ramalan ataupun dunia santet dan susuk. Masyarakat kita begitu mudah digoyang isu drakula ataupun tuyul. Begitu percaya dan terpengaruh oleh soal adanya kekuatan untuk mem-'backup' (mendukung) dan melindungi dari kelompok jin ataupun kekuatan gaib. Bahkan, disinyalir sebagaimana orang memanfaatkan kekuatan supernatural untuk kepentingan jabatan, karir, kecantikan dan persaingan dalam bisnis.
Kedua, kritik moral dan etika umat. Umat Islam lebih akrab dengan etika dan moral dalam pengertian sekedar sopan santun anak terhadap orang tua, murid terhadap guru, buruh terhadap majikan ataupun bawahan terhadap atasannya. Etika dalam arti kesopanan lebih dipandang penting ketimbang etika sosial yang lebih luas. .-kkhirnya, secara kolot dan kaku masyarakat kita cenderung mengabadikan feodalisme dan formalisme yang mengabaikan perhatian dan tanggung jawabnya terhadap masalah sosial umat secara menyeluruh.
Hal ini memerlukan pemahaman dan penghayatan moral dan etika yang utuh dari umat Islam. Etika yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara luas jauh lebih penting dalam merefleksikan nilai-nilai Islam. Akibat kurangnya perhatian terhadap aspek ini, akhirnya perbuatan dosa kolektif dianggap tidak berarti. Kita sering hanya merasa prihatin jika mendengar mewabahnya budaya korupsi, mungkin tanpa dapat berbuat apa pun, terhadap segala persoalan yang menyangkut manipulasi, budaya koneksi, ataupun kriminalitas yang makin marak. Belum lagi soal adanya tindakan keberingasan dan kerusuhan yang menelan banyak korban materiil ataupun jiwa manusia. Bagaimana bisa dipahami, orang yang setiap hari shalat, mengaji dan mengkaji Alquran, sopan dan rajin mengaji, pada kali yang lain menjadi perusak dan perusuh kehidupan masyarakat.
Ketiga, kritik sosial budaya berkenaan dengan setiap segi kehidupan sosial dan bodaya masyarakat. Banyak keprihatinan terlontar di seputar rimba raya hukum kita. Dari yang hanya mengatakan adanya kelunturan wibawa hukum, mafia peradilan hingga hilangnya kepastian dan keadilan hukum. Masalah perkelahian pelajar sangat akut dan tampaknya belum bisa tertangani secara tuntas. Sementara itu kehidupan masyarakat telah dilanda konsumerisme, materialisme, hedonisme, pragmatisme serta sekulerisme sebagai serentetan penyakit sosial masa kini.
Ada juga muballigh yang menyoroti adanya kekeringan teladan dari para pemimpin masyarakat dan keterasingan masyarakat yang memegang teguh agamanya di tengah kehidupan glamor kota-kota besar. Mesjid-mesjid dan tempat pengajian mulai ditinggalkan. Pusat-pusat perbelanjaan selalu ramai. Diskotik, cafe dan night club tak pernah luput dikunjungi. Orang lebih dihargai dari penampilan fisik dan merek yang dipakainya, ketimbang sisi akhlaknya.
Keempat, kritik ekonomi terkait dengan persoalan ekonomi umat dan bangsa. Isu yang paling mendasar berpusat pada kemiskinan. Dorongan para pemuka agama agar konsentrasi permodalan di satu pihak mesti dibagi secara adil, adanya keharusan kemitraan antara pengusaha besar dan lemah, bukan bantuan yang sekedarnya atau hanya ungkapan belas kasihan. Ada pula seruan untuk menekankan distribusi peran, peluang dan kesempatan yang sama dalam berusaha. Semuanya bermuara pada bagaimana usaha meningkatkan taraf hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat perkotaan yang selalu menjadi sorotan, rentan dengan problema ekonomi. Tidak henti-hentinya diwarnai oleh masalah penanganan gepeng (gelandangan dan pengemis), pemulung, pengamen ataupun masalah sampah. Siapakah yang dapat diandalkan mengulurkan tangan untuk mereka agar terbebas dari derita kejamnya ibu kota? Tentu saja jawabannya ada pada kesadaran dan kesungguhan kita sebagai umat pemberi rahmat dan kesejukan bagi kemanusiaan.
Kelima, kritik keilmuan dan teknologi. Negara-negara Islam telah menjadi korban dari mengalirnya pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Barat. Keprihatinan itu muncul dari tingkat produktifitas keilmuan dan teknologi umat Islam yang relatif rendah dan masih kalah bersaing dengan dunia Barat yang terus mendominasi. Dari produk makanan dan minuman, buah-buahan, mode pakaian, hingga mainan anak-anak dibanjiri oleh karya nonpribumi. Umat Islam hanya jadi konsumen yang terus-menerus hobi mengeluarkan anggaran yang tanpa disadarinya lebih menguntungkan orang dan bangsa lain.
Masalah kedua terkait dengan hakikat keilmuan Barat yang hanya mengakui adanya wilayah kebendaan yang empirik sementara agama tidak hanya menyangkut soal yang empirik tetapi juga yang metafisik. Yang dipandang sebagai ilmu bagi dunia barat adalah yang dapat diindera dan sesuai dengan kenyataan. Padahal cakupan agama mencakup keduanya, wilayah nyata dan maya, riil, dan gaib. Di sini senantiasa merebakkan ketegangan secara prinsip antara dunia Islam dengan dunia Barat.
Nilai dan ajaran agama dihadapkan berbagai penemuan mutakhir yang menantang dogmatisme agama dan tantangan untuk ikut memecahkan persoalan kemanusiaan. Dari mulai pengembangan biomedis, alat-alat perang mutakhir sampai persoalan alat pembunuh sistematis. Tidak ada zaman yang paling menantang bagi keberadaan agama kecuali masa yang amat berat di era perubahan global yang sangat cepat ini.
Keenam, kritik struktural terkait dengan aturan, lembaga dan perangkat formal yang senantiasa menjerat dan menghambat pada kemajuan umat. Banyak orang ingin maju, pintar, dan cerdas, tetapi selalu tidak pernah maju. Banyak yang berprestasi tetapi selalu tidak pernah menang. Di dalamnya ada budaya koneksi, pelicin, dan lobi-lobi tingkat tinggi di lapangan golf, pacuan kuda, restoran, cafe, ataupun juga di lapangan tenis.
Isu-isu soal kemiskinan struktural sering dikaitkan oleh para da`i dengan adanya kemiskinan yang semakin menggurita. Bukan saja kemiskinan materiil tetapi juga kemiskinan mentalitas dan spiritualitas masyarakat. Setiap orang sering diperlakukan tidak sama dan sangat tergantung pada anak siapa, keluarga siapa dan berapa besar koneksi diberikan.
Hadhirin yang Berbahagia,
Dakwah kritik sebagai sikap kepedulian dan hasrat melakukan perubahan memang penting untuk membangunkan umat Islam dari tidur panjangnya. Kita berharap dapat merangsang kreativitas berfikir dan memicu keterlibatan umat dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya. Yang terpenting adalah bagaimana perubahan itu dapat direalisasikan menuju perbaikan dan penyempurnaan kualitas kehidupan umat. Sehingga bukan hal yang berlebihan jika kita menyatakan, tiada dakwah tanpa perubahan dan setiap upaya untuk melakukan perubahan adalah dakwah.
Dengan amat tegas Rasulullah saw. mengingatkan tentang keharusan menyatakan kebenaran dalam keadaan apapun, dengan resiko apapun, dan sebesar apapun tantangannya. Sikap memperjuangkan kebenaran tidak ada tujuan lain kecuali untuk menegakkan keadilan. Dalam keadilan itu ada ketakwaan dan ridla Tuhan. Karenanya, kritik sosial umat merupakan bagian dari nasihat agama yang seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap umat. Allah berfirman dalam Alquran surat Al Anfal (8) : 90 yang artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu semua untuk berbuat adil dan berbuat ihsan, memberi (perhatian) kepada kaum kerabat; dan Allah melarang berbuat keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepada kamu sekalian agar kalian dapat mengambil pelajaran " [Q.S. Al Anfal (8) : 90]
Akhirnya perlulah kita mengakhiri khutbah ini dengan beberapa kesimpulan:
Pertama, umat Islam perlu memahami lebih mendalam tentang etika sosial dan penegakan akhlak bermasyarakat secara luas, tidakhanya mengerti soal kesopanan, sikap dan tingkah laku saja;
Kedua, sikap kritik sebagai bentuk kepedulian dan panggilan hati nurani umat untuk meluruskan yang salah dan munkar, perlu menjadi budaya dalam kehidupan umat Islam. Kritik yang ditujukan untuk keadilan sosial secara menyeluruh, bukan kritik yang mencari kambing hitam apalagi berbuat kemunkaran serta kezaliman; dan
Ketiga, bertanggung jawab secara pribadi ataupun bersama-sama untuk saling mengingatkan di antara sesama umat harus dilandasi sikap keterbukaan dan mengarah pada usaha mengembangkan dakwah yang mampu menyelesaikan persoalan umat secara nyata dalam berbagai segi.
Dipublikasikan pada hari Jumat 24 April 2015 M / 5 Rajab 1436 H

Bank Soal Sosiologi & Kunci Jawaban

Bank Soal Sosiologi & Kunci Jawaban. 

Berikut ini merupakan kumpulan naskah (Bank Soal) mata pelajaran Sosiologi yang dipergunakan untuk kegiatan Ulangan Harian, Ulangan Akhir Semester (UAS), Ulangan Kenaikan Kelas (UKK), Ujian Sekolah, Try Out dan Ujian Nasional. Penguasaan materi soal merupakan hal yang sangat penting untuk meraih kesuksesan dalam ulangan / ujian. Adapun tujuan dari ujian itu sendiri adalah sarana untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa sekaligus sebagai jembatan untuk menyebrang ke jenjang yang lebih tinggi.
Semoga bank soal ini bermanfaat besar, baik bagi Guru maupun bagi Siswa:
Bagi Guru sebagai referensi untuk menyusun soal-soal ulangan / ujian.
Bagi Siswa sebagai bahan latihan untuk membiasakan diri memahami karakteristik soal-soal yang diujikan dalam ulangan / ujian.
Bank soal sosiologi dan kunci jawabannya ini kami sajikan dalam format file doc* yang dapat diedit sesuai kebutuhan.
Ulangan Harian Kelas X

Ulangan Harian Kelas XI
Struktur Sosial
Kebudayaan
Kelompok Sosial
Masyarakat Multikultural

Ulangan Harian Kelas XII
Perubahan Sosial

Ulangan Akhir Semester

Ulangan Kenaikan Kelas

Ujian Sekolah

Try Out
Try Out Sosiologi 2014 (Chapter #1, Chapter #2)
Try Out Sosiologi 2015 (Chapter #1, Chapter #2

Ujian Nasional
UN Sosiologi 2013 (Paket A, Paket B, Paket C)
UN Sosiologi 2014
UN Sosiologi 2015 (Paket A,)

Demikian Bank Soal Mata Pelajaran Sosiologi kami bagikan (share) dan akan selalu diperbarui (update) secara periodik.
Salam Edukasi.

Pengertian Sosialisasi

Pengertian Sosialisasi - Sosialisasi merupakan proses belajar seseorang menuju pembentukan kepribadian melalui pemahaman mengenai kesadaran terhadap peran diri yang dijalankan dan peran yang dijalankan orang lain. Sosialisasi juga dapat dimaknai sebagai suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (tradisi, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, yang dimulai dari lingkungan keluarganya dan kemudian meluas pada masyarakat luas, lambat laun dengan keberhasilan penerimaan atau penyesuaian tersebut, maka individu akan merasa menjadi bagian dari keluarga atau masyarakat.
Pada dasarnya, setiap manusia melakukan proses sosialisasi dari lahir hingga meninggalnya. Manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderung an untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Di dalam kehidupan masyarakat, manusia dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya melalui suatu proses. Proses penyesuaian diri terhadap masyarakat dalam sosiologi dinamakan proses sosialisasi.
Tahapan Sosialisasi
a. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap persiapan merupakan tahap pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan tindakan meniru meskipun belum sempurna.
b. Tahap Meniru (Play Stage)
Pada tahap ini anak dapat meniru perilaku orang dewasa dengan lebih sempurna. Anak sudah menyadari keberadaan dirinya dan orang-orang terdekatnya serta mampu memahami suatu peran.
c. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam keluarga dan masyarakat. Anak mulai menyadari peraturan yang berlaku.
d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)
Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewasaan dan mengetahui dengan jelas mengenai kehidupan bermasyarakat. Anak mampu memahami peran yang seharusnya dilakukan dalam masyarakat.
Fungsi Sosialisasi
a. Membentuk pola perilaku individu berdasarkan kaidah nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
b. Menjaga keteraturan dalam masyarakat.
c. Menjaga integrasi masyarakat.
Tujuan Sosialisasi
a. Mewariskan nilai dan norma kepada generasi penerus.
b. Membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
c. Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dan norma dalam masyarakat.
d. Mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
e. Tercapainya integrasi masyarakat.
Bentuk Sosialisasi
a. Sosialisasi primer merupakan tahap sosialisasi pertama yang diterima oleh individu dalam lingkungan keluarga.
b. Sosialisasi sekunder, biasa terjadi di lingkungan sekolah, lingkungan bermain, lingkungan kerja, dan media massa.
c. Sosialisasi represif merupakan bentuk sosialisasi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang. Sosialisasi tahap ini berkaitan dengan pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punishment).
d. Sosialisasi partisipatoris merupakan sosialisasi yang dilakukan dengan mengutamakan peran aktif dari objek sosialisasi dalam proses internalisasi nilai dan norma.
e. Sosialisasi secara formal merupakan bentuk sosialisasi yang dilakukan melaiui lembaga-lembaga formal seperti sekolah dan kepolisian.
f. Sosialisasi secara nonformal adalah bentuk sosialisasi melalui lembaga nonformal seperti masyarakat dan kelompok bermain.
g. Sosialisasi langsung merupakan tahap sosialisasi yang dilakukan secara face to face tanpa menggunakan media atau perantara komunikasi.
h. Sosialisasi tidak langsung, yaitu sosialisasi dengan menggunakan perantara/alat komunikasi.
Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian
Beberapa faktor pembentuk kepribadian sebagai berikut:
a. Faktor biologis, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang diperoleh dari genetik keturunan orang tua.
b. Faktor kelompok, yaitu kepribadian yang terbentuk dari pengaruh lingkungan kelompok sosial.
c. Faktor prenatal, yaitu faktor yang berkaitan dengan pemberian rangsangan atau stimulus ketika anak masih dalam kandungan.
d. Faktor geografis, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan alam.
e. Faktor kebudayaan, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan budaya.
f. Faktor pengalaman, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang berhubungan dengan pengalaman hidup.
Bentuk Media Sosialisasi
1. Media Keluarga
Proses sosialisasi yang terjadi dalam lingkungan keluarga sebagai berikut.
a. Keluarga merupakan kelompok primer yang memiliki intensitas tinggi untuk mengawasi perilaku anggota keluarganya.
b. Orang tua berperan mendidik anak agar kehadirannya dapat diterima oleh masyarakat.
c. Sosialisasi diberikan oleh orang tua kepada anak agar membentuk ciri khas kepribadian.
2. Media Sekolah
Proses sosialisasi di lingkungan sekolah sebagai berikut.
a. Berperan dalam proses sosialisasi sekunder.
b. Melibatkan interaksi yang tidak sederajat (antara guru dan siswa) serta interaksi sederajat (antara siswa dan siswa).
c. Cakupan sosialisasi lebih luas.
d. Berorientasi untuk mempersiapkan penguasaan peran siswa pada masa mendatang.
e. Menanamkan nilai kedisiplinan yang lebih tinggi dan mutlak.
3. Media Kelompok Bermain
Proses sosialisasi dalam kelompok bermain sebagai berikut.
a. Dilakukan antarteman, baik teman sebaya maupun teman tidak sebaya.
b. Terjadi secara ekualitas (hubungan sosialisasi yang sederajat).
c. Kelompok bermain ikut menentukan cara berperilaku anggota kelompoknya.
d. Menjadi bagian dari subkultur yang dapat memberikan pengaruh positif atau negatif.
4. Media Lingkungan Kerja
Proses sosialisasi yang terjadi di lingkungan kerja sebagai berikut.
a. Diutamakan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan hasil kerja.
b. Sosialisasi tahap lanjut setelah memasuki masa dewasa.
c. Adaptasi dalam proses sosialisasi lingkungan kerja dilakukan berdasarkan tuntutan sistem.
d. Intensitas sosialisasi tertinggi dilakukan antarkolega.
5. Media Massa
Identifikasi proses sosialisasi media massa sebagai berikut:
a. Dilakukan untuk menghadapi masyarakat luas.
b. Pesan sosialisasi lebih bersifat umum.
c. Diperlukan peran serta masyarakat untuk bersikap selektif terhadap informasi yang akan diserap oleh anak.
d. Sosialisasi selalu mengikuti segala bentuk perkembangan dan perubahan sosial yang bersifat universal.
e. Berperan penting untuk menyampaikan nilai dan norma untuk menghadapi masyarakat yang heterogen.
Referensi:
Joan, Yustinah & Faqih. 2013. Detik-Detik UN Sosiologi. Klaten: Intan Pariwara.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas X SMA dan MA. Vina Dwi Laning.

Islam dan Radikalisme

Islam dan Radikalisme - Tidak mudah mengaitkan antara Islam dan radikalisme. Pertanyaannya adalah: apakah Islam mengajarkan radikalisme? Jawaban atas pertanyaan ini selalu problematik. Sebab, agama (Islam atau agama apa pun) secara taken for granted dipandang sebagai instrumen ilahiah yang mengajarkan hal-hal yang serba "baik." Bagaimana mungkin mengkaitkan agama dengan ekstremisme sesuatu yang secara inheren dianggap mengandung hal-hal yang tidak "biasa". Dalam perspektif seperti ini, agama dan radikalisme sering dilihat sebagai sesuatu yang bersifat kontradiktif. Namun demikian, dalam kenyataan sehari-hari, kaitan erat antara agama dan radikalisme merupakan hal yang mudah ditemui.
Pada dasarnya ada keengganan bagi banyak kalangan umat beragama untuk melihat potensi keterkaitan antara agama dan radikalisme. Sikap enggan ini bukan didasarkan semata-mata untuk membela agama tertentu, tetapi karena fungsi agama memang bukan untuk mendorong tindakan-tindakan yang bersifat radikal, dan berbau negatif. Agama selalu berbicara tentang hal-hal yang serba baik, serba agung, untuk menciptakan tatanan yang dalam perspektif, misalnya, Islam "baldatun thayibatun wa rabun ghafur." Masyarakat Jawa menyebutnya, "negeri gemah ripah lohjinawi, toto tenterem kerto raharjo." Atau, dalam pandangan para sosiolog Barat, agama dimaksudkan untuk menciptakan "the good society." Inilah kira-kira yang menjadi fungsi universal agama-agama yang ada.
Meskipun begitu, pada dasarnya sulit untuk mengingkari adanya tindakan-tindakan radikal yang setidak-tidaknya membawa bendera agama kalau bukan justru diinspirasi dan dimotivasi oleh cara pandang serta pemahaman tertentu terhadap doktrin-doktrin agama. Dan, dalam konteks perkembangan global dewasa ini, komunitas Islam sulit untuk menghindar dari pertanyaan apakah Islam mendakwahkan radikalisme? Tentu dengan semangat subjektivitas keagamaan, setiap Muslim akan menjawab dengan nada negatif. Dengan kata lain, Islam tidak (pernah) mengajarkan radikalisme. Kendatipun mereka mengetahui bahwa ada banyak tindakan radikal yang bisa dikait-kaitkan dengan Islam.
Islam tidak bisa mengakomodir tindakan-tindakan ekstrem. Baginya jelas bahwa Islam justru memerintahkan moderasi dan keseimbangan situasi yang tidak ekstrem. Moderasi dan keseimbangan yang diajarkan Islam mencakup segala sesuatu, baik dalam hal kepercayaan, beribadah, perbuatan dan tingkah laku, serta dalam hal menetapkan hukum. Inilah, yang dalam Islam disebut al-sirat al-mustaqim (jalan lurus) jalan mereka yang diberi nikmat oleh Allah, dan bukan mereka yang terkena murka Allah.
Oleh karena itu, bahwa moderasi atau keseimbangan bukan hanya merupakan karakteristik umum Islam, tetapi juga menjadi tonggak paling fundamental. Jika secara doktriner dan prinsipal, itulah yang ingin dipancangkan Islam, maka semestinya komunitas Islam adalah komunitas yang mengikuti jalan lurus, adil, moderat, dan seimbang. Mereka seharusnya selalu berada di tengah, tidak berada pada titik paling jauh baik di sisi kanan maupun di kiri dari pusat.
Gagasan mengenai moderasi dan keseimbangan mempunyai dasar yang kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah dua sumber utama Islam. Sumber yang pertama ini telah menyebutkan berbagai istilah yang memerintahkan Muslim untuk selalu berada di tengah, menjadi moderat, dan berlaku seimbang (wasath) serta melarang mereka berlaku ekstrim, ta'addi (melampaui batas), atau tasydid (kaku, keras). Demikian pula, berkali-kali Nabi Muhammad mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan meskipun di dalam menjalankan ajaran agama. Nabi juga mengingatkan bahaya yang bakal dihadapi oleh mereka yang bertindak melampaui batas. Ajaran-ajaran Islam memang memerintahkan Muslim untuk berlaku seimbang, dan melarang mereka bertindak ekstrem.
Ada tiga problem utama dalam radikalisme agama,
Pertama, tindakan ekstrem atau batas itu terlalu sulit untuk dapat disetujui oleh manusia. Terlalu berat bagi mereka untuk memikul beban atau mentolerir tindakan-tindakan yang melampaui batas. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang dapat hidup dengan praktik-praktik yang melampaui batas, mayoritas tidak mungkin bertindak demikian. Karenanya dapat dikatakan bahwa ekstremisme itu sebenarnya berlawanan dengan sifat manusia (human nature).
Kedua, tindakan ekstrem atau yang melampaui batas itu tidak berumur panjang (short-lived). Secara alamiah, kemampuan orang untuk bertahan khususnya terhadap hal-hal yang berbau eksesif itu terbatas. Dan karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan, maka tidak bakal mampu bertahan dengan tindakan-tindakan yang melampaui batas untuk jangka waktu lama.
Ketiga, praktik-praktik yang melampaui batas itu membahayakan dan melanggar hak dan kewajiban pihak lain.

Diklat Dapodikmen 2015

Diklat Dapodikmen 2015. Sebagai langkah percepatan pendataan pendidikan menengah, Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemdikbud melaksanakan diklat pendataan pendidikan menengah melalui aplikasi dapodikmen. Materi disampaikan oleh Bapak Murjiyanto (Dirjen Pendidikan Menengah Kemdikbud) dan I Nyoman Pasek (Helpdesk Dapodikmen Region Bali, Kalimantan Barat & Nusa Tenggara Timur). Diklat ini difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sragen dan diikuti oleh 20 sekolah jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK). Berlangsung selama 2 hari (25-26 Maret 2015) bertempat di SMK Binawiyata Sragen.
Berikut ini adalah review hasil diklat dapodikmen yang disampaikan oleh pemateri:
1. Pencairan Dana Bansos BOS
Mulai tahun 2015 sumber data untuk pencairan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), 100% berasal dari Dapodikmen. Untuk itu pastikan sekolah mengentrikan data peserta didik dengan data yang benar-benar valid. Valid tidaknya data siswa berdasarkan NISN. Jadi data peserta didik yang memiliki NISN valid inilah yang dijadikan sebagai acuan pencairan dana BOS. Untuk mengecek validitas data penerima BOS silahkan masuk ke web berikut dengan menggunakan log in operator sekolah http://bansos.dikmen.kemdikbud.go.id/bos/
2. Verval (Verifikasi dan Validasi) NISN Peserta Didik
Untuk verval NISN Peserta Didik masuk ke halaman http://vervalpd.data.kemdikbud.go.id/. Login dengan menggunakan akun & password operator yang telah teregistrasi. Pada menu residu, verval NISN peserta didik dengan memilih match / unmatch. Kemudian selesaikan tahap selanjutnya pada menu konfirmasi. Yang terpenting adalah pastikan semua data peserta didik telah masuk ke dalam menu referensi. Setelah semua data masuk menu referensi, langkah selanjutnya, lakukan sinkronsiasi ulang pada aplikasi dapodikmen. Maka otomatis data NISN peserta didik akan masuk ke dalam aplikasi dapodkmen. Untuk memahami alur verval data antara aplikasi, server dapodikmen dan server PDSP bisa dilihat pada diagram berikut ini.
3. Dapodik Untuk Pencairan Dana BSM
Agenda selanjutnya setelah pencairan dana BOS adalah pencairan dana BSM. Acuan data penerima BSM berasal data Dapodik dengan bukti kepemilikan kartu KPS atau KIP. Pastikan nomor KPS telah dientrikan pada aplikasi Dapodik untuk peserta didik calon penerima BSM.
4. Bekerja Sesuai Alur
Banyak diantara operator yang mengalami gagal validasi dan sinkron, karena bekerja tidak sistematis sesuai dengan alur yang ditentukan. Sebagai contoh, entri data peserta didik harus dimulai dari semester 1, tidak diperkenankan langsung melompat ke semester 2 (kecuali peserta didik dengan status pindahan). Selesaikan entri data disemester 1 kemudian validasi dan sinkron. Setelah itu baru melanjutkan ke semester berikutnya dengan cara menyalin data periodik dari semester 1.
5. Jam Mengajar Guru Agama dalam aplikasi Dapodikmen
Bagaimana pengaturan jam mengajar untuk Guru Agama? Misal dalam satu kelas terjadwal jam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, diwaktu yang sama juga terjadwal untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Katholik. Caranya adalah dengan menambah rombel baru untuk mata pelajaran agama tertentu. Masuk ke menu Rombongan Belajar kemudian Tambah rombel baru. Tentukan jenis rombel Pilihan 1 (Agama), bukan rombel Kelas. Kemudian masukkan peserta didik dalam menu Anggota Rombel. Selanjutnya entrikan data jam mata pelajaran pada Menu Pembelajaran.
6. Jam Mengajar Untuk Mata Pelajaran Lintas Minat
Bagaimana pengaturan jam mengajar untuk mata pelajaran lintas minat dalam kurikulum 2013? Prinsipnya hampir sama seperti pengaturan jam mengajar pada mata pelajaran Agama, hanya saja pada menu jenis rombel pilih Kelas Teori. Kemudian lengkapi data peserta didik pada menu Anggota Rombel dan entrikan jumlah jam pelajaran pada menu Pembelajaran.
7. Cek Data PTK Dikmen
Ada yang baru dalam web http://dapo.dikmen.kemdikbud.go.id/ yaitu menu Cek Data PTK Dikmen. Dalam menu ini PTK dapat mengecek kelengkapan data individu, jumlah beban mengajar dan data sertifikasi. Menu ini merupakan Simulasi Kelengkapan Data untuk Tunjangan PTK Melalui Dapodikmen. Selanjutnya, berdasarkan dari data referensi inilah pencairan Tunjangan Profesi Guru (Dana Sertifikasi) akan disalurkan. Silahkan http://dapo.dikmen.kemdikbud.go.id/infoptk_dikmen/web/   Login dengan menggunakan NUPTK dan tanggal lahir PTK.
8. Guru Mengajar Mapel Secara Utuh Dalam 1 Rombel
Beban mengajar Guru dalam 1 rombel hanya bisa dipenuhi secara utuh oleh 1 Guru mata pelajaran, tidak dapat dibagi oleh Guru lainnya (team teaching). Contoh mata pelajaran Sosiologi 5 jam pelajaran di Kelas XI IPS. Guru A mengajar 3 jam pelajaran dan Guru B mengajar 2 jam pelajaran. Hal yang seperti ini tidak diperkenankan. Seharusnya Guru hanya dapat mengajar mata pelajaran secara utuh dalam 1 rombel, tidak dipecah.
9. Penuhi Hak Operator Dapodik
Ini yang paling penting. Dalam juknis BOS telah disebutkan bahwa alokasi penggunaan dana BOS diantaranya adalah untuk keperluan entri data pada aplikasi dapodik. Entri data dapodik meliputi data sekolah, data sarpras, data PTK, data Peserta Didik dan Rombongan Belajar. Selain daripada itu operator juga masih harus mensinkronkan, verifikasi dan validasi data secara online. Sebuah tanggung jawab tugas yang tidak ringan. Laksanakan kewajiban operator mengentri data selengkap-lengkapnya dan penuhi haknya.
10. Semua Bantuan / Tunjangan Berasal Dari Dapodik
Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa semua bantuan baik itu BOS, BSM, Bantuan Sarana Prasarana Sekolah dan Dana Tunjangan Profesi Guru (Dana Sertifikasi), sumber referensi datanya berasal dari DAPODIK bukan yang lain.
Demikian review hasil diklat Dapodikmen yang disampaikan oleh Bapak Murjiyanto dan I Nyoman Pasek. Untuk materi Paparan kebijakan Dapodikmen 2015 dan Aplikasi Bansos Pendidikan Menengah Tahun 2015 silahkan diunduh disini.
Salam 1 Data.

Baca Juga:

 

© 2015 | Fahdisjro El Besra. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top