Problem Pluralisme di Indonesia

Problem Pluralisme di Indonesia. Indonesia merupakan negara agraris dengan berbagai sumber daya alamnya yang melimpah, terbentang dari Sabang dan Merauke. Masyarakatnya pun terbentuk dari berbagai macam suku, ras, dan agama yang berbeda-beda, sehingga Indonesia dikatakan sebuah negara yang kaya dengan keanekaragaman (plural). Tak dapat dipungkiri, diferensiasi yang terjadi sebagai akibat kemajemukan itu telah menyebabkan terjadinya ketegangangan sosial di tengah kehidupan seperti perbedaan strata sosial, diskriminasi ras dan perbedaan kepentingan di sektor ekonomi, politik, budaya dan lain-lainnya. Transformasi sosial, yang terjadi selama ini tidak berjalan merata, tentunya adanya satuan-satuan sosio kurtural mengakomodasi terhadap perubahan sebagai langka solusi awal yang masih tampak gugup dan terbata-bata dan mungkin juga bisa gagal dalam mengadaptasikan diri dalam perubahan tersebut.
Dengan mulai diberlakukannya MEA 2015 akan menambah problematika kehidupan. Sebagaimana pemberitaan media massa, Indonesia sebagai negara berkembang harus mempunyai perisai sebagai benteng integrasi bangsa. Dimana bangsa Indonesia sekarang saja masih dalam krisis yang berkepanjangan sejak penghujung tahun 1997 dengan melambungnya nilai tukar dollar ke rupiah. Perlunya kesiapan Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi ke depan harus benar-benar melakukan pembenahan di berbagai sektor. Muhammad Sobary mengatakan “barang siapa yang ketinggalan informasi ia akan tertindas roda jaman yang terus bergulir dengan cepatnya yang tidak pernah bersedia menanti yang tertinggal dibelakang.
Dinamika sosial, budaya, ekonomi dan politik didalam tubuh bangsa Indonesia masih banyak menimbulkan pertanyaan (masalah) yang mendasar tentang kesiapan bangsa mengikuti roda jaman yang kemungkinan dapat menghilangkan jati diri bangsa dari ideologi dan kekayaan yang dimilikinya. Dengan adanya gesekan ataupun tekanan dari dalam dan luar (negara lain) yang merugikan Indonesia.
Pluralisme di Indonesia
Pluralisme di Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Adanya permasalahan yang terjadi – konflik rasial – merupakan sebuah indikator yang merefleksikan kurangnya pemaknaan pluralitas Indonesia. Menunjuk perubahan di berbagai bidang penting bagian dari orde baru. Dalam bidang sosial ekonomi akselerasi pembangunan lewat industrialisasi barang dan jasa telah relatif mengangkat pendapatan perkapita rakyat Indonesia, pertumbuhan tingkat ekonomi nasional dan pendidikan meningkat secara signifikan walaupun terintimidasi secara tak langsung sehingga perkembangan yang sama tidak terjadi setelah Indonesia menjadi konsumen bantuan-bantuan luar negeri.
Akibat hilangnya kepemimpinan yang benar-benar mau membela rakyat adalah dampak dari lenyapnya rasa nasionalisme dan adanya misunderstanding akan kehidupan sosial yang plural dalam negara Indonesia sehingga adanya pemimpin seperti ke tidak adanya, indikatornya sumber daya manusia yang tidak berkualitas dalam memanage bangsa (pemerintah) serta lemahnya spiritualismenya. Pengembangan SDM merupakan pilihan yang memiliki arti strategis bagi bangsa Indonesia karena pembangunan nasional yang harus berlangsung sinambung dan dinamis meniscayakan adanya sumber daya manusia yang berkualitas dan akan memungkinkan bangsa Indonesia merebut keunggulan kompetitif di dunia ini.
Dari penjelasan diatas, kita bisa menilai bahwa ambruknya sistem perekonomian dan buruknya perpolitikan serta adanya disintegrasi bangsa merupakan kesalahan pembentukan mentalitas spritual. Sehingga menjadi ancaman yang tak diketahui oleh kita sendiri. Untuk itu, perlunya menegakkan kembali sendi yang mengatur kehidupan berbangsa secara menyeluruh di dalam pancasila sebagai idiologi bangsa yang sudah mencakup suluruh pluralitas Indonesia. Dan pembentukan itu diawali dari individu – masyarakat – bangsa yang akhirnya persatuan bangsa terjaga akibat rasa nasionalisme.

Penelitian Sosial

A. Pengertian Penelitian Sosial
Penelitian adalah suatu penyelidikan secara sistematis terhadap suatu objek secara sistematis, terencana dan menggunakan metode ilmiah.
B. Prosedur Penelitian Ilmiah
1. Merumuskan Masalah
Setiap penelitian selalu bermula dari adanya masalah atau tantangan. Dalam konteks penelitian, masalah diartikan sebagai adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Misalnya, Anda berharap Anda sekolah Anda memiliki prestasi lebih dibandingkan sekolah lain. Namun, kenyaataannya tidak demikian. Itu berarti ada kesenjangan (perbedaan) antara harapan Anda dengan kenyataan. Mengapa itu terjadi, dan bagaimana cara meningkatkan prestasi adalah dua masalah yang perlu dicari jawabannya. Masalah juga dapat diartikan sesuatu yang membutuhkan penjelasan. Untuk memperoleh suatu penjelasan diperlukan sebuah penelitian, karena dengan penelitian dapat diungkap (ditemukan) pengetahuan atau informasi yang sebelumnya tidak diketahui.
2. Merumuskan Anggapan Dasar (Asumsi)
Setelah masalah dirumuskan secara jelas dan tegas, peneliti masih memerlukan suatu pijakan untuk melakukan kegiatannya. Pijakan itu berupa asumsi dasar atau anggapan dasar. Anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti. Keyakinan itu berguna bagi peneliti untuk memperkuat permasalahan dan memudahkan dalam menetapkan objek penelitian, wilayah pengambilan data, serta instrumen pengumpulan data. Karena asumsi dasar harus merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya, maka untuk memperoleh keyakinan tersebut peneliti tidak boleh merumuskan tanpa didahului informasi yang cukup mengenal segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Informasi yang cukup dapat diperoleh melalui membaca berbagai literatur, menyimak berbagai informasi lisan (percakapan, radio, televisi), dan mengunjungi calon lokasi penelitian. Dengan berbagai informasi yang diperoleh, akhirnya peneliti yakin akan merasa yakiri sesuatu hal. Keyakinan itu dirumuskan menjadi asumsi dasar.
3. Merumuskan Hipotesis
Setelah kita merumuskan beberapa anggapan dasar yang menjadi pedoman dalam meneliti, selanjutnya kita dituntut untuk mengarahkan penelitian kepada usaha pemecahan masalah. Pada dasarnya, penelitian merupakan upaya untuk memecahkan masalah atau upaya untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang hadapi. Pemecahan masalah tidak dapat dilakukan sekaligus, melainkan bertahap, dengan cara mengajukan pertanyaan untuk setiap aspek. Hipotesis dapat berarti jawaban sementara atas pertanyaan pada rumusan masalah.
4. Memilih Pendekatan
Pemilihan pendekatan penelitian merupakan bagian dari metodologi penelitian. Di bagian awal telah disebutkan bahwa metodologi penelitian meliputi penentuan sampel, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
5. Menentukan Variabel
Seperti yang telah dikatakan pada bagian awal, variabel adalah objek penelitian yang berupa gejala-gejala yang bervariasi (dapat diubah-ubah atau diganti-ganti). Dalam sosiologi, gejala-gejala yang diteliti adalah fakta-fakta sosial.
6. Menentukan Sumber Data
Bagian akhir proses pembuatan desain penelitian adalah penentuan sumber data atau populasi. Sumber data adalah orang, tempat, dan kertas yang dapat memberikan informasi bagi peneliti. Orang dapat memberikan informasi berupa keterangan lisan maupun tertulis. Tempat dapat memberikan informasi berupa gerak maupun keadaan diam. Informasi gerak berupa aktivitas sehari-hari, tarian, laju kendaraan, sajian sinetron, nyanyian dan sebagainya. Informasi dari keadaan diam dapat berupa keadaan ruangan, perabotan, berbagai benda, warna dan sebagainya, sedangkan kertas mewakili semua bentuk dokumen tertulis (laporan, buku, majalah, koran, prasasti, lontar), balk berupa tulisan, gambar maupun simbol.
7. Menentukan dan Menyusun lnstrumen
Instrumen pengumpul data ada dua macam yaitu instrumen yang berupa tes dan instrumen yang berupa non-tes. Untuk itu setiap upaya membuat instrumen apa pun harus memperhatikan tata cara dan ketentuan yang mengaturnya. Secara umum langkah-langkahnya meliputi:
a. Perencanaan,
b. Penulisan atau pembuatan instrumen,
c. Penyuntingan (editing),
d. Uji coba (try out),
e. Analisis hasil uji coba, dan
f. Revisi atau perbaikan.
8. Mengumpulkan Data
9. Menganalisis Data
10. Menulis Laporan
SaIah satu sistematika penulisan laporan hasil penelitian yang dapat Anda jadikan pedoman dalam pembuatan laporan adalah sebagai berikut:
a. Halaman Judul
b. Kata Pengantar
c. Daftar Isi
d. Daftar Tabel
e. Daftar Gambar dan Diagram
Bab 1. Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Sistematika Pembahasan
Bab 2. Kajian Pustaka
A. Landasan Teori
B. Kerangka Berpikir Peneliti
C. Hipotesis
Bab 3. Metodologi
A. Pemilihan Subjek Penelitian (Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling)
B. Pendekatan Penelitian
C. Pengumpulan Data
Bab 4. Pelaksanaan Penelitian
A. Analisis Data
B. Hasil Analisis Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan (Penutup)
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi 3 : Untuk Kelas X SMA dan MA KelasXII Progarm IPS. Suhardi & Sri Sunarti.

Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial merupakan proses yang direncanakan atau tidak direncanakan dengan tujuan mengajak, membimbing, atau bahkan memaksa anggota masyarakat agar dapat mematuhi nilai dan tatanan yang berlaku dalam masyarakat. Pengendalian sosial berfungsi agar masyarakat mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku, baik dengan kesadaran sendiri maupun dengan paksaan. Melalui pengendalian sosial orang-orang yang berperilaku menyimpang diupayakan untuk kembali mematuhi nilai dan norma masyarakat.
Sifat Pengendalian Sosial
1. Preventif, yaitu pengendalian sosial yang dilakukan sebelum penyimpangan sosial terjadi. Misalnya dengan sosialisasi dan pelaksanaan pendidikan baik formal maupun nonformal.
2. Represif, yaitu pengendalian sosial yang dilakukan setelah penyimpangan sosial terjadi. Tujuannya untuk mengembalikan keserasian atau keteraturan yang pernah mengalami gangguan.
Metode Pengendalian Sosial
1) Koersif (Paksaan). Cara koersif lebih menekankan pada ancaman yang menggunakan kekerasan. Tujuannya agar si pelaku jera dan tidak melakukan perbuatan buruk lagi.
2) Persuasif (Tanpa Paksaan). Cara persuasif lebih menkankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertndak sesuai dengan aturan yang berlaku di dalam masyarakat.
3) Compulsion. Dalam pengendalian sosial ini, diciptakan situasi sedemikian rupa sehingga seseorang terpaksa taat atau mengubah sikapnya, sehingga menghasilkan kepatuhan secara tidak langsung.
4) Pervasion. Dalam pengendalian ini, nilai dan norma sosial diulang-ulang penyampaiannya dengan harapan akan dapat lebih dipahami oleh anggota masyarakat.
Peran Lembaga Pengendalian Sosial
1. Polisi, untuk menjaga keamanan dan ketertiban sosial, polisi mengendalikan perilaku masyarakat agar tidak menyimpang atau melanggar nillai dan norma masyarakat.
2. Pengadilan, yaitu suatu lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk menyeidiki, mengusut dan menjatuhkan hukuman kepada warga masyarakat yang melanggar hukum.
3. Pengadilan adat, merupakan suatu lembaga yang terdapat pada masyarakat yang masih kuat memegang adat. hukuman yang dijatuhkan oleh lembaga ini berdasarkan pada peraturan adat.
4. Tokoh Masyarakat, yaitu para pemimpin masyarakat yang memiliki pengaruh atau wibawa di hadapan masyarakat. Tokoh masyarakat berperan dalam memberi nasehat, membimbing atau menegur warga masyarakat.
5. Sekolah, merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki fungsi pendidikan dan pengajaran. Para guru berkewajiban mendidik dan mengajar muridnya agar bertindak sesuai peraturan.
6. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak-anak untuk belajar hidup sosial.
Cara Pengendalian Sosial
1) Gosip atau Gunjingan
Gosip adalah membicarakan seseorang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Pada umumnya, gosip berisi hal-hal yang dinilai kurang pantas menurut kaca mata umum. Pada situasi tertentu, koreksi terhadap perilaku orang lain tidak dapat disampaikan secara langsung, sehingga beredarlah gosip dari mulut ke mulut. Pada dasarnya, gosip merupakan upaya orang lain memperhatikan perilaku kita, apakah sudah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum.
2) Teguran
Teguran adalah kritik yang diberikan seseorang kepada orang lain sehubungan dengan perilakunya. Kritik tersebut bersifat membangun karena bertujuan agar seseorang memperbaiki perilaku. Teguran digunakan untuk mengendalikan pelanggaran-pelanggaran ringan. Berbeda dengan gosip, teguran disampaikan secara langsung dan terbuka
3) Pemberian Penghargaan dan Huuman
Pendidikan merupakan bagian dari proses sosialisasi. Dalam dunia pendidikan dikenal adanya prinsip penghargaan dan hukuman (rewards and punishment). Penghargaan diberikan kepada siswa yang melakukan perbuatan baik atau berprestasi, sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat di luar ketentuan atau melakukan kesalahan.
4) Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan anak. Melalui pendidikan, seorang anak dikenalkan, dibiasakan, dan dituntun untuk patuh kepada berbagai nilai dan norma sosial yang ada di masyarakat. Nilai dan norma itu ditanamkan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada seorang anak melalui pendidikan. Inilah arti penting pendidikan sebagai salah satu cara pengendalian sosial.
5) Agama
Agama merupakan suatu sistem kepercayaan yang didalamnya terkandung sejumlah nilai dan norma yang harus dipatuhi pemeluknya. Nilai dan norma itu menjadi tuntunan bagi manusia dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan alam. Dengan menjadi pemeluk agama yang balk, seseorang telah mematuhi sejumlah norma yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan di masyarakat. Oleh karena itu, agama dapat dijadikan sarana sebagai pengendalian sosial.
Koentjaraningrat menyebutkan lima macam fungsi pengendalian sosial, yaitu:
1) Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma.
2) Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.
3) Mengembangkan rasa malu.
4) Mengembangkan rasa takut.
5) Menciptakan sistem hukum.

Referensi:
Andi Prasetyo. 2011. 1001 Kisi-Kisi Dalam Ujian Sosiologi. Jakarta: Buku Kita
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



Bank Soal Sosiologi; Try Out UN #2 (2015)

Bank Soal Mata Pelajaran Sosiologi. Materi Try Out Ujian Nasional #2 untuk Kelas XII. Jumlah Soal 50 Pilihan Ganda (PG)

1. Pemerintah melakukan perencanaan pembangunan di daerah yang terkena dampak letusan Gunung Kelud. Dalam melakukan perencanaan pembangunan, pemerintah meminta bantuan sosiolog untuk memberikan data-data mengenai kebutuhan masyarakat. Peran sosiolog dalam proses pembangunan tersebut adalah ….
A.  melakukan penelitian sosial
B. menganalisis dampak pembangunan
C. mengambil keputusan pembangunan
D. mengevaluasi perencanaan pembangunan
E. melaksanakan perencanaan pembangunan
2. Perhatikan pernyataan berikut!
1) Seorang perampok ditangkap polisi setelah melakukan aksinya.
2) Wabah flu burung menyebabkan masyarakat resah dan ketakutan.
3) Seorang siswa dinasihati oleh guru bimbingan konseling karena menyontek ketika ulangan.
4) Urbanisasi telah menyebabkan semakin padatnya penduduk perkotaan dan meningkatkan kemacetan.
5) Banyaknya pejabat yang melakukan korupsi menyebabkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah berkurang
Permasalahan sosial ditunjukkan oleh pernyataan nomor ….
A. 1), 2), dan 3)
B. 1), 2), dan 4)
C. 1), 3), dan 5)
D. 2), 4), dan 5)
E. 3), 4), dan 5)
3. Seorang siswa menolak diajak temannya mencuri karena ia tahu perbuatan tersebut melanggar aturan agama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa siswa tersebut mematuhi nilai rohani. Fungsi nilai rohani terhadap perilaku siswa adalah
A. memaksa individu untuk taat
B. menciptakan keteraturan sosial
C. mengarahkan individu dalam berpikir dan bertingkah laku
D. mengawasi setiap pola perilaku manusia sesuai ajaran agama
E. memberi penghormatan kepada individu yang berperilaku sesuai nilai sosial
4. Suatu perusahaan memiliki peraturan yang mengikat karyawannya. Bagi karyawan yang melanggar aturan akan diberi sanksi. Unsur yang berpengaruh terhadap keteraturan sosial tersebut adalah …
A. pola
B. order
C. keajekan
D. tertib sosial
E. perilaku sosial
5. Seorang anak perempuan berumur lima tahun gemar bermain peran seolah-olah ia adalah seorang ibu. Ia berpura-pura berbelanja, menyapu, dan memasak. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak berada dalam tahapan sosialisasi….
A. Play stage
B. Game stage
C. Significant others
D. Preparatory stage
E. Generalized stage
6. Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden diliput oleh berbagai stasiun televisi. Selain itu, Koran dan majalah menampilkan berita tentang pelantikan tersebut. Seluruh masyarakat Indonesia dapat mengetahui proses pelantikan serta program kerja yang akan dilaksanakan Presiden dan Wakil Presiden. Dengan demikian, media massa memiliki fungsi….
A. menyampaikan nilai dan norma
B. mendorong rakyat menjaga persatuan
C. mengajak membentuk kehidupan damai
D. mengomunikasikan rencana dalam menjalankan pemerintahan
E. memberikan informasi tentang hasil pembangunan
7. Perhatikan pernyataan berikut!
1) Yusuf sedang menuliskan pengalamannya hari ini di buku harian.
2) Tiara berolahraga menggunakan sepeda statis di rumahnya.
3) Hafiyah menjabat tangan Randyka sebagai ucapan simpati atas keberhasilannya.
4) Alvin mengirim aplikasi pendaftaran ke universitas di luar negeri melalui email.
5) Hafidz mempresentasikan hasil penelitiannya kepada tim juri lomba penulisan ilmiah.
Pernyataan yang menunjukkan interaksi sosial terdapat pada nomor ….
A. 1), 2), dan 3)
B. 1), 2), dan 4)
C. 1), 3), dan 5)
D. 2), 4), dan 5)
E. 3), 4), dan 5)
8. Febrian memberi salam kepada juri dan para penonton dengan menganggukkan kepala di tengah panggung setelah memainkan alat drum. Pada saat itu para juri dan penonton memberi tepuk tangan kepada peserta lomba. Ciri yang menonjol dalam contoh interaksi tersebut adalah….
A. terjadi komunikasi
B. muncul kepuasan pribadi
C. persaingandalam kompetitif
D. ketertiban dalam kompetisi
E. permainan drum yang bagus
9. Suatu perusahaan berhasil memenangi tender untuk membuat area perbelanjaan modern (mal). Perusahaan lain yang tidak bias menerima kekalahan melakukan provokasi, bahkan menyebarkan fitnah agar tender itu dibatalkan. Proses interaksi sosial yang terjadi tersebut berbentuk …
A. kontravensi
B. kontroversi
C. konsiliasi
D. ajudikasi
E. konflik
10. Perhatikan pernyataan berikut!
1) Budi mencopet agar mendapatkan uang untuk membiayai sekolah anaknya.
2) Perkelahian antara dua kelompok pemuda karena saling menghina.
3) Seorang siswa menyontek untuk mendapatkan nilai memuaskan.
4) Seorang anak mencuri di sebuah toko karena kelaparan.
5) Fiko menjadi kurir narkoba untuk membiayai kuliahnya.
Perilaku menyimpang karena dorongan kebutuhan ekonomi ditunjukkan oleh pernyataan nomor…
A. 1), 2), dan 3)
B. 1), 3), dan 4)
C. 1), 4), dan 5)
D. 2), 4), dan 5)
E. 3), 4), dan 5)

Demikian naskah soal untuk Try Out Ujian Nasional #2 mata pelajaran Sosiologi tahun 2015. Jika memerlukan soal selengkapnya, silahkan klik link download dibawah ini. Jumlah soal keseluruhan 50 pilihan ganda. Jenis file, microsoft word (*doc) dapat diedit sesuai kebutuhan. Salam edukasi.

www.com

Perilaku Menyimpang

Dalam proses sosialisasi di masyarakat, seseorang disadari atau tidak disadari pasti pernah melakukan tindakan menyimpang, baik dalam skala besar ataupun kecil. Perilaku menyimpang merupakan hasil proses sosialisasi yang tidak sempurna, serta ketidakmampuan seseorang menerapkan nilai dan norma sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang, sehingga menghasilkan perilaku yang menyimpang.
A. Pengertian Penyimpangan Sosial
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat. Perilaku yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku disebut penyimpangan sosial (perilaku menyimpang).
B. Ciri-Ciri Penyimpangan Sosial
Menurut Paul B. Horton penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan.
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak.
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak.
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan
f.  Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)
C. Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial
Menurut Wilnes dalam bukunya “Punishment and Reformation“ sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri.
b. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
D. Bentuk-Bentuk Penyimpangan Sosial
Bentuk-bentuk penyimpangan sosial dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.
Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut. Pertama, Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang.
Kedua, Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk. Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut.
a) Penyimpangan primer (primary deviation) adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Misalnya: siswa yang terlambat, pengemudi yang sesekali melanggar peraturan lalu lintas, dan orang yang terlambat membayar pajak.
b) Penyimpangan sekunder (secondary deviation) perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya: orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk, serta seseorang yang melakukan tindakan pemerkosaan. Tindakan penyimpangan tersebut cukup meresahkan masyarakat dan mereka biasanya dicap masyarakat sebagai “pencuri”, “pemabuk”, “penodong”, dan “pemerkosa”.
E. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial
Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma- norma masyarakat. Jenis penyimpangan sosial (perilaku menyimpang), antara lain sebagai berikut.
1. Penyimpangan seksual seperti; perzinaan, lesbian, homoseks, kumpul kebo, pemerkosaan.
2. Penyalahgunaan narkotika
3. Perkelahian pelajar
4. Alkoholisme
5. Tindakan kriminal seperti; pencurian, pemerkosaan, dan perampokan.
F. Teori-Teori Perilaku Menyimpang
Teori-teori yang menjelaskan tentang perilaku menyimpang, antara lain sebagai berikut.
1. Teori fungsi oleh Emile Durkheim.
Menurut teori fungsi, bahwa keseragaman dalam kesadaran moral semua warga masyarakat tidak mungkin ada, karena setiap individu berbeda dengan yang lain. Bahkan menurut Durkheim kejahatan perlu bagi masyarakat, sebab dengan adanya kejahatan maka moralitas dan hukum akan berkembang secara normal. Dengan demikian perilaku menyimpang memiliki fungsi yang positif.
2. Teori merton oleh K. Merton.
Menurut teori merton, bahwa struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku yang konformis (sesuai dengan norma) melainkan juga menghasilkan perilaku yang menyimpang. Struktur sosial dapat menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan juga menghasilkan anomie yaitu pudarnya kaidah.
3. Teori labelling oleh Edwin M. Lement.
Menurut teori labelling, bahwa seseorang menjadi menyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepada dirinya. Labelling adalah pemberian nama atau konotasi buruk, misalnya si pemabuk, si pembolos, si perokok, sehingga meskipun ia tidak lagi melakukan penyimpangan tetap diberi gelar sebutan pelaku menyimpang. Dari hal tersebut ia akan tetap melakukan penyimpangan karena terlanjur dicap oleh masyarakat.
4. Teori konflik oleh Karl Marx.
Menurut teori konflik, bahwa kejahatan terkait erat dengan perkembangan kapitalisme. Perilaku menyimpang diciptakan oleh kelompok-kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan sendiri. Hukum merupakan cerminan kepentingan kelas yang berkuasa dan sistem peradilan pidana mencerminkan kepentingan mereka. Orang miskin yang melakukan pelanggaran dihukum sedangkan pengusaha besar yang melakukan pelanggaran tidak diba- wa ke pengadilan. Demikian menurut pendapat Karl Marx.
5. Teori pergaulan berbeda oleh Edwin H. Sutherland.
Menurut teori pergaulan berbeda, bahwa penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan kelompok yang telah menyimpang. Penyimpangan diperoleh melalui proses alih budaya (cultural transmission). Melalui proses tersebut seseorang mempelajari penyimpangan, maka lama- kelamaan ia pun akan tertarik dan mengikuti pola perilaku yang menyimpang tersebut.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas X SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



 

© 2015 | Fahdisjro El Besra. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top