Ads Top

https://play.google.com/store/apps/developer?id=Bung%20Fahdisjro&hl=in

Konflik Sosial – Definisi, Faktor Penyebab, dan Teori-teori


Keadaan masyarakat yang beraneka ragam dapat memicu terjadinya konflik. Konflik dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan yang dibawa oleh individu pada saat berinteraksi seperti perbedaan ciri fisik, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya. Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan konflik sosial? Berikut penjelasan lebih jelas mengenai konflik sosial. 

 

Definisi Konflik Sosial

 Konflik sosial yang terjadi di masyarakat sangat beragam, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Konflik berasal dari Bahasa Latin, yaitu configure yang artinya saling memukul. Beberapa pendapat ahli tentang definisi konflik sosial antara lain: 

a. Soerjono Soekanto. Konflik adalah suatu proses sosial individu atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai ancaman dan/atau kekerasan.

b. Robert M.Z. Lawang. Konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, dan kekuasaan di mana tujuan mereka tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya. 

c. Berstein. Konflik adalah suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik ini dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif saat melakukan interaksi dengan orang lain. 

d. Ensiklopedia Nasional Indonesia. Menguraikan bahwa konflik muncul karena adamya benturan antara dua unsur dalam masyarakat yang mengharuskan salah satunya berakhir. 

 

Dalam konflik sosial terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh. Pandangan tersebut berusaha mengidentifikasi konflik sosial. Beberapa pandangan mengenai konflik sosial yang dikutip dari Haryanto (2011) dapat kalian baca pada penjelasan selanjutnya. 

a. Robbin. Robbin memandang konflik menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut antara lain:

1) Pandangan Tradisional. Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik merupakan hal yang buruk, bersifat negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik ini merupakan hasil disfungsional akibat komunikasi yang kurang baik dan kurang keterbukaan antara individu dalam masyarakat. 

2) Pandangan Hubungan Manusia. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi dalam kelompok atau organisasi di masyarakat. Dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan yang dapat memicu terjadinya konflik. Oleh karena itu konflik harus dijadikan motivasi untuk melakukan perubahan dalam suatu kelompok atau organisasi. 

3) Pandangan Interaksionis. Pandangan ini cenderung mendorong munculnya konflik dalam kelompok atau organisasi. Menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan untuk menumbuhkan sikap kritis, kreatif, dan semangat dalam sebuah kelompok atau organisasi. 

 

b. Stoner dan Freeman. Stoner dan Freeman memberikan dua pandangan mengenai konflik sosial yaitu: 

1) Pandangan Tradisional. Pandangan ini menganggap bahwa konflik dapat dihindari dengan cara meminimalisasikan munculnya konflik dalam sebuah kelompok atau organisasi. 

2) Pandangan Modern. Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik tidak dapat dihindari. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strustur organisasi, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi, nilai-nilai, dan sebagainya. 

 

c. Myers. Menurut Myers pandangan terhadap konflik sosial dibagi menjadi dua, yaitu: 

1) Pandangan Tradisional. Pandangan ini menganggap konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Dalam pandangan ini menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. 

2) Pandangan Kontemporer. Pandangan ini menganggap konflik merupakan suatu yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia. 

 

Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Sosial 

 Penyebab terjadinya konflik sosial dalam masyarakat dilatarbelakangi beberapa faktor, diantaranya:  

a. Adanya perbedaan antarindividu.

b. Adanya perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda-beda. 

c. Adanya perbedaan kepentingan antara individu dengan kelompok. 

 

Teori-teori Konflik Sosial 

Teori Konflik Menurut Lewis A. Coser

Menurut Coser, konflik yang terjadi di masyarakat dikarenakan adanya kelompok lapisan bawah yang semakin mempertanyakan legitimasi dari keberadaan distribusi sumber-sumber langka (Ranjabar, 2013). Coser menilai bahwa konflik tidak selalu bersifat negatif, namun konflik dapat mempererat dan menjalin kerukunan dalam  suatu kelompok.  Suatu kelompok dapat berlangsung lama atau cepat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dikutip dari Ranjabar (2013), ada tiga faktor yang mempengaruhi lama tidaknya suatu konflik di masyarakat, yaitu:

a. Luas sempitnya tujuan konflik 

b. Adanya pengetahuan maupun kekalahan dalam konflik 

c. Adanya peranan pemimpin dalam memahami biaya konflik dan persuasi pengikutnya. 

 

Konflik dapat menjaga hubungan antarkelompok dan memperkuat kembali identitas kelompok. Adapun manfaat konflik menurut Coser adalah:

a. Konflik dapat menjadi media untuk berkomunikasi. 

b. Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok. 

c. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok tersebut dan solidaritas tersebut dapat mengantarkan kepada aliansi dengan kelompok lain. 

d. Konflik menyebabkan anggota masyarakat yang terisolasi menjadi berperan aktif. 

 

Coser mengelompokkan konflik sosial menjadi dua macam, yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis.

a. Konflik Realistis. Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), konflik realistis ialah konflik yang berasal dari kekecewaan individua atau kelompok atas tuntutan maupun perkiraanperkiraan keuntungan yang terjadi dalam hubungan sosial. Contoh konflik realistis, misalnya para karyawan yang melakukan pemogokan kerja melawan manajemen perusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji. 

 

b. Konflik Non-Realistik. Konflik non-realistis merupakan konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang bertentangan, melainkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan (Haryanta, 2012). Sebagai contoh konflik non-realistis ialah pada masyarakat buta huruf ada ilmu gaib yang digunakan untuk melakukan pembalasan. 

 

Teori Konflik Menurut Karl Marx 

Karl Marx memiliki pandangan tentang konflik sosial sebagai pertentangan kelas. Masyarakat yang berada dalam konflik dikuasai oleh kelompok dominan. Adanya pihak yang lebih dominan muncul pihak yang berkuasa dengan pihak yang dikuasai. Kedua pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda atau bertentangan sehingga dapat menimbulkan konflik. Fakta-fakta menurut pandangan teori Karl Marx (Ranjabar, 2013) antara lain: 

a. Adanya struktur kelas dalam masyarakat 

b. Adanya kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang yang berada dalam kelas yang berbeda. 

c. Adanya pengaruh yang besar dilihat dari kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang. 

d. Adanya berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial. 


Karl Marx dikutip dari Haryanto (2011), menguraikan tentang adanya kelas objektif. Kelas ini dapat dibagi atas kepentingan manifes dan kepentingan laten. Oleh karena itu, setiap sistem sosial harus dikoordinasi dan mengandung kepentingan laten yang sama. Kelompok tersebut biasa dikenal dengan istilah kelompok semu. Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), kelompok semu adalah kelompok yang terdiri atas orang-orang yang sifatnya sementara, tanpa struktur, ikatan, kesadaran, dan aturan. Kelompok semu ini terdiri atas kelompok yang menguasai dan kelompok yang dikuasai. 

 

Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf 

Bagaimana pendapat Dahrendorf mengenai konflik sosial? Pada awalnya, Dahrendorf melihat teori konflik sebagai teori parsial yang digunakan untuk menganalisis fenomena sosial. Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu konflik dan kerja sama. Berdasarkan pemikiran tersebut, Dahrendorf menyempurnakan dan menganalisis dengan fungsionalisme struktural, agar mendapat teori konflik yang lebih baik.


Dahrendorf menggunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri kontemporer. Perjuangan kelas dalam masyarakat moderen berada pada pengendalian kekuasaan.


Dahrendorf mengkomunikasikan pemikiran fungsional mengenai struktur dan fungsi masyarakat dengan teori konflik antarkelas sosial. Dehrendorf tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang statis, namun dapat berubah oleh adanya konflik di masyarakat.

Powered by Blogger.